Hati Suhita — Eps 13

“Karepku ini lho, Lin, yang mau ta ganti gebyok Kudus,”

Aku mensejajari langkah ummi menuju rumah belakang. Rumah kami memang ada dua bagian. Bagian depan untuk menerima tamu, dengan desain modern. Dan bagian belakang, rumah joglo sederhana yang dipenuhi ukiran kayu. Disinilah ummi dan abah menghabiskan waktu.

Rumah ini adalah peninggalan kakek buyut Mas Birru. Tidak ada yang berubah kecuali tambahan kanopi, pergola, dan gazebo.

Di gazebo, ummi menaruh kasur tebal dan bantal tebal untuk abah Muthola’ah setiap hendak mengajar. Di bawah kanopi, ada ayunan kayu dengan warna pelitur yang hampir pudar. Di sudut Timur, kolam ikan koi dengan air gemericik.

Ummi selalu bangga memamerkan bunga Api Irian Merah yang membelit pergola lalu kembangnya menjuntai ke bawah seperti lorong pengantin.

Tempat ini sangat tertutup. Selain keluarga dan kang Sarip tidak pernah ada yang masuk. Pintu kori yang menjadi pusat jalan masuk benteng ini juga tidak pernah terbuka.

“Turuo kene sekali sekali sama Birru, Lin.” Ummi membuka pintu sebuah bilik yang di dalamnya terdapat dipan tertutup robyog berjumbai lalu ditutup dengan kelambu putih seperti kamar putri raja. Ummi bilang, semasa pengantin baru, abah sering mengajaknya istirahat di tempat ini.

Hatiku berlompatan. Ummi memang tidak tahu kalau putranya belum menyentuhku. Jangankan mikir pindah ke kamar yang sakral ini. Gimana caranya dia pindah dari sofa saja aku belum berhasil.

Aku ingat malam itu, setelah kencan pertama kami, sepanjang perjalanan pulang, ia lebih banyak diam. Tapi ia mematikan musik mobilnya dan menikmati suaraku mengaji.

Sampai kamar, dia langsung mengajakku shalat isya. Lalu setelah berdoa, dia menatapku lama dengan pandangan yang sulit kumengerti.

Aslinya aku sendiri juga penasaran, kenapa dia tiba-tiba saja melunak. Rasanya tidak mungkin kalau hanya ketakutan karena ancamanku pulang.

Aku sudah bertekad kalau malam itu ia mengajakku malam pertama, aku tidak mau dulu. Sebelum dia jujur kenapa dia bisa berubah.

Tapi malam itu tidak terjadi apa apa. Hanya saja, aku tidak sedih karena air mukanya sudah tak seangkuh biasanya. Ia tampak sedikit ramah,

“Lin, aku ke Gazebo abah, ya. Sinyal gak oke ini. Aku harus garap data buat besok.”

Aku cuma tersenyum karena itulah pertama kali dia pamit. Biasanya dia menghabiskan malam sesukanya.

Aku juga tak punya pikiran macam macam. Aku langsung tidur setelah membuatkannya kopi yang ia balas dengan senyum yang manis.

Paginya, ia berangkat dan mengecup keningku beberapa detik karena di dekatku ada ummi yang baru datang.

Aku sudah menasehati diri sendiri agar memberikan kebebasan dia seluas-luasnya. Jadi aku tidak menelpon atau kirim berita. Apalagi ditambah aku sibuk urus ummi yang agak masuk angin. Jadi aku makin tidak tahu kabar mas Birru.

Itu sebabnya, malam itu, aku begitu girang waktu dia kirim WA.

Lin,

Dalem

Bagaimana ummi?

Sehat. Kata dokter hanya kecapekan.

Oh, ya wes. Kog belum tidur?

Blm

Ngaji?

Mboten

Rapat Diniyah?

Mboten

Knp gak tidur?

Nunggu wa njenengan

Hehe. Wes tiduro

Inggih. Njenengan juga.

Besok ta telp

Inggih

Sudah, ya

Inggih

Kok masih online?

Nggih, hehe

Lin,

Inggih, gus?

Taruh hapenya sekarang, Lin. Tiduro.

Hehe. Mboten ngantuk

Wes ndang tidur. Besok pagi ta telp. Kamu harus sudah bangun.

Inggih,

Aku langsung tidur di sofanya, memakai bantal dan selimutnya, dan kurasakan malam itu adalah malam terindah.

“Sudah enak awake, Mi?”

“Sampun, Bah. Sudah dipijeti Alina.”

“Yo, ngunu iku ummimu, Lin, sekarang punya mantu, kesele di pol polke.”

Ummi tergelak. Bahunya sampai bergerak-gerak.

“Capek nggih, Mi perjalanan kemarin?”

“Ya, mesti capek, Lin. Ummimu itu Ratunya rombongan. Kabeh suruh manut. Gak cukup itu mbah sunan mbah sunan, tok. Minta tambah.”

“Lha, teng pundi mawon, Bah?”

“Di Gresik, ummi minta mampir ke makam Fatimah binti Maimun. Lewat Lasem minta ziarah ke Putri Cempo.”

“Ah, Abah, yang cerita soal pasujudan Sunan Bonang lho njenengan, ya, kulo penasaran to, jadi sekalian.”

“Terus ummimu juga minta mampir ke sunan Prawoto dan mbah Mutamakkin. Di Surabaya minta ke makam mbah Bungkul dan mbah Karimah.”

“Ya, kan sekalian, Bah.”

“Di Semarang minta ke mbah Soleh darat, ngunu iku sek minta mampir ke sunan Pandanaran. Maringunu sek njaluk neng Pasar Klewer kate mborong batik.”

“Haha. Tapi lho, sama abah gak pareng.”

“Yo, gak pareng. Jal, Lin, bayangno, koyok opo iku kesele jamaah? Rute asline ke sunan-sunan biasae. Ummimu sek njaluk imbuh.”

“Lha, tiyang tiyang lho seneng, Bah.”

“Yo, seneng. Wong Ratune seng ngejak kate gak seneng piye?”

Kami bertiga tergelak.

“Pantes, kulo bingung, Mi, katanya tiga hari kog lama banget. Lha bise mboten nopo nopo molor, Mi?”

“Jelas, bise malah seneng. Bise iku seng nduwe lho alumni. Sudah lama, Lin nawani abah sak supire sak bensine. Senang tenan bise digae sak jamaah. Iku wonge ngefan tenan ambek bojomu, Lin.”

“Suk, kowe dan Birru ta ajak ya, Lin, abah pengen ngajak kamu sama Birru sowan ke makam-makam Waliyulloh.” Abah menyahut dengan penuh harapan.

Aku langsung teringat mas Birru, sedang apa dia sekarang? Ummi dan abah memiliki hubungan yang begitu hangat, bisakah aku sehangat mereka kelak bersama mas Birru?

Rumah besar ini begitu lengang, tidak ada suara apapun selain senyap dan gemericik air kolam. Apalagi kalau seluruh santri sudah masuk ke kelas-kelas diniyah.

Kalau saja aku sudah punya putra, pasti dia tertawa riang bermain ikan. Pasti dia menggoda abah yang sedang Muthola’ah kitab di gazebo. Pasti dia minta pangku ummi yang sibuk menderas Qur’annya.

Tapi apakah mas Birru memikirkan hal yang sama dengan yang kupikirkan?

Aku ingat telponnya pagi itu,

“Assalamualaikum,”

“Waalaikum salam.”

“Sehat, Lin?”

“Alhamdulillaaah.”

Lalu hening.

“Ummi mana?”

“Sebentar saya panggilkan.”

“Eh, enggak. Tadi sudah kutelpon kog.”

Aku menahan senyum.

“Lin,”

“Nggih?”

“Kamu sehat, kan?” Dia mengulang pertanyaan.

“Inggih. Bagaimana njenengan?”

“Aku, perutku agak bermasalah.”

“Waduh, kebanyakan sambel itu.”

Dia terkekeh, “Iya,” Jawabnya lirih.

“Obat sudah diminum, Gus?”

“Sudah. Rutin.”

“Oh,”

Lalu hening.

“Lin?”

“Dalem.”

“Kamu dimana ini?”

“Saya di kamar, mau ngajar.”

“Oh, ya wes.”

Lalu hening.

“Saya gak pulang kog, Gus. Saya nunggu njenengan. ”

“Iya.”

Hening lagi.

“Sudah ya, Lin.”

“Nggih.”

“Di situ panas apa dingin?”

“Saya di kamar, Gus, jadi dingin. Di luar ya, lumayan hangat. Nanti siang pasti panas.”

“Oh, ya wes. Disini dingin, Lin.”

Aku diam. Dia juga diam. Masing masing kami tidak berani bicara. Aku sampai bisa mendengar hembusan napasnya.

“Gus?”

“Ya, Lin?”

“Katanya sudah?”

Dia terkekeh lalu diam lagi.

“Lusa aku pulang.”

“Inggih.”

Dia menutup telpon setelah mengucapkan salam dengan lirih. Mendengarnya serasa tembus sampai ke hati.

Dari suara lirih itu, kurasa, tidak akan ada lagi malam-malam di mana aku menggelepar dalam getar.

Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran mas Birru tapi pagi itu aku begitu bahagia. Segala sesuatu jadi tampak indah.

Seperti sore ini. Rumah Jawa ini terasa begitu memikat hatiku.

Aku memang jarang duduk di sini. Mas Birru jarang mengajakku. Kadang ummi mengajakku ngaji untuk kusimak, atau aku yang menyimak hafalan beliau, tapi mataku yang sendu selama ini tak mampu menangkap keindahan.

Lalu sore ini, dengan mataku yang bahagia, kulihat taman ummi begitu indah. Paduan gebyok, gazebo dan pergola yang seluruhnya dari kayu jati terlihat makin megah karena rumput hijau yang menghampar di sela-sela kerikil hias.

Ummi memenuhi tempat ini dengan taman vertikal dengan jenis bunga-bunga yang tak kutahu namanya.

Anggrek-anggrek aneka rupa menggelantung mekar. Sulur bunga menerobos lewat celah pergola. Kembang kertas membentuk lengkungan di pintu kori. Tumbuhan Tanduk rusa melingkari seluruh permukaan pohon ketapang yang daunnya dipangkas. Pakis pedang di sekitar dinding kolam. Lalu alamanda kuning merambat di tiang kanopi.

Di samping gazebo, Kemuning, Tanjung dan Soka, yang kembang merahnya memunculkan suasana semangat.

Aku tidak tahu lagi kembang-kembang milik ummi lainnya, kecuali beberapa tanaman yang persis ditanam ibu di rumahku, dan ditanam kakek di depan rumahnya di Salatiga. Konon tanaman ini merupakan tumbuhan spiritual masyarakat Jawa.

Dia adalah Sawo kecik, yang berarti sarwo becik. Sebuah pengharapan agar selalu dalam kebaikan.

Juga mawar yang berarti mawi arso. Ini berarti dengan kehendak niat, mengingatkan kita kalau melakukan sesuatu harus dengan niat yang kuat.

Mawar juga berarti awar awar ben tawar. Buatlah hati menjadi tawar yang berarti tulus.

Sesungguhnya, tanpa minta nasehat kepada siapapun. Tumbuh-tumbuhan ini seperti menasehati luka-lukaku.


“Lin,”

“Dalem, Mi.”

“Setelah ngelamar kamu buat Birru dulu, abah ngotot bikin kolam ikan itu. Katanya buat persiapan punya cucu katanya.”

Aku tersenyum. Hatiku bergetar. Ummi dan Abah pasti mendoakan keturunannya. Pasti melunaknya mas Birru bukan hanya karena aku. Tapi bersebab doa mereka ini. Aku ingat mas Birru yang malam itu mencuci tanganku. Aku tahu, sebenarnya mas Birru bukan orang angkuh. Sikapnya di kafe, tingkahnya di warung wader, menunjukkan kalau ia bisa bergaul dengan siapapun dan dari kalangan manapun.

Mas Birru dingin padaku mungkin karena sedang mengalami perang batin. Hatinya sakit karena perjodohan ini dan waktulah yang akan menyembuhkannya.

Kulihat kembang Kenanga yang berarti Keneng o, gapailah. Konon zaman dahulu tanaman seperti ini selalu ada di keraton sebagai pesan Kenengo, gapailah perilaku dan prestasi yang dipakai para leluhur.

Disampingnya kembang Cempaka putih, yang kita kenal dengan kembang kantil yang berarti kanti laku, dengan perbuatan. Ini mengingatkan kita kalau cita-cita lahir batin tidak hanya akan tercapai dengan memohon, tapi sambil terus berusaha.

Di sekitar kolam, kulihat kembang Melati, melad soko jerone ati. Mengingatkan bahwa ucapan kita haruslah berasal dari hati yang paling dalam. Lahir batin harus serasi, tidak munafik, dan harus terus berprasangka baik.

Ah, mas Birru, maafkan aku yang sering berprasangka buruk tentangmu.

“Lin, apa kalian butuh bulan madu?” Ummi kembali mengagetkanku. Aku terhenyak. Bagaimana mungkin Ummi bicara seperti itu?

“Mboten ah, Mi.”

“Anak anake kancaku gitu. Gak papa, Lin. Birru juga ben leren sek, soko pekerjaane. Kamu juga biar istirahat dari mulang ngaji. Ummi sama abah mbok tinggal tiga harian gak masalah, lho.”

Pusat tubuhku menghangat. Aku ingat mas Birru yang begitu kuingin. Aku ingat hasratku dan kepasrahanku padanya yang paripurna.

“Mboten usah, Mi.”

“Ah, gak popo, jajal ya, besok nek Birru datang, ummi bilang. ”

“Inggih, Mi. Kulo nderek.”

Tiba tiba aku sangat merindukan mas Birru. Ingat tatapannya malam itu. Saat kubilang di kamarku tidak ada sofa. Tatapan itu belum pernah kutahu sebelumnya.

Apakah kelak dia akan tetap memilih tempat menginap yang bersofa?

Ummi mengambil buku tafsir di atas meja, lalu mulai membaca. Hapeku berdenting. Hatiku bersorak, pasti mas Birru. Sudah sampai mana dia? Aku tak sabar menunggunya datang. Aku ingat suaranya yang gemetaran menelponku. Aku ingat rencana ummi yang meminta kami bulan madu. Bagaimana kalau dia tahu? Bisakah dia menolak titah umminya? Apa yang akan dia lakukan kalau momen itu benar-benar terjadi?

Ternyata bukan wa mas Birru, tapi Aruna. Ia mengirim foto screen shoot dari sebuah halaman facebook yang membuatku langsung lemas.

Disana, mas Birru dan Rengganis duduk di sepasang kursi putih berlatar pemandangan puncak. Mas Birru memakai kaos putih dan jaket jins. Rambut ikalnya tertiup angin. Senyumnya mempesona seperti biasa.

Disampingnya, Rengganis memakai blus dan jilbab merah yang tampak menggairahkan. Di kanan kirinya, teman-temannya berpose lucu-lucu. Tapi hanya mas Birru dan Rengganis yang duduk di kursi.

Aku tahu mereka satu tim. Tapi melihat sinar bahagia mas Birru, hatiku hancur berkeping-keping. Harapan yang sudah kutata dengan susah payah langsung hancur terburai. Aku begitu lunglai dihantam gelombang cemburu.

Disana dingin. Bisa saja Rengganis ingin.
Aku tak sanggup membayangkan itu.

“Lin, aku tak bermaksud apa apa. Ini hanya informasi buatmu. Jangan sedih, Dear. Kamu miliknya dan dia milikmu. Sedikit waspada kurasa cukup.” Tulis Aruna.

Aku ingin meledakkan tangis tapi ummi di sampingku. Aku tak mungkin menghubunginya lebih dulu, apalagi membahas perkara ini. Jadi aku lunglai sendiri. Bagaimana bila Rengganis yang cantik merenggut hakku dan mengambil posisiku? Tentu saja sikap hangat mas Birru padaku akan kembali beku, kalau Rengganis merayap pelan dalam kehidupannya lagi.

Air mataku jatuh satu persatu ke pangkuan lalu kulihat di sudut tenggara halaman tertutup ini ada segerombol tebu.

Tebu adalah tanaman spiritual jawa, dari kata antebing kalbu, yang berarti kemantapan hati. Tanaman ini selalu tumbuh serumpun, sauyun, seperti bambu. Ini adalah pola pikir kebersamaan. Tebu selalu tumbuh ke atas. Daunnya penuh keindahan. Kakek menyukai gending tebu sauyun memiliki pesan ajaran kerukunan.

Aku tidak boleh gegabah. Harus kupikirkan keutuhan rumah tanggaku. Harus kumantapkan kembali hatiku bahwa mas Birru dan dia hanyalah rekan kerja yang mungkin memang pernah punya cerita masa lalu, dan butuh waktu menyelesaikan semuanya.

Aku harus belajar dari Tebu, yang untuk memberikan rasa manis harus digiling, diperas, bahkan diinjak-injak sampai benar-benar mengeluarkan sarinya. Proses ini menandai jerih payah hidup, bahwa untuk mencapai kenikmatan butuh perjuangan yang panjang.

Tebu adalah pilar berpikir indah, penuh sari manis. Ia tumbuh ke atas, memerhatikan kebersamaan, keras kulitnya tapi manis dalam rasanya.

Tebu, mantep ing Qolbu, harus kumantapkan hatiku.

“Lin,”

“Dalem, Mi.”

“Bojomu kog gak iso ta telpon?”

“Masih di jalan menawi, Mi.”

“Ket isuk mau lho, Lin.”

Aku menangis dalam diam. Lagi-lagi aku dikuasai prasangka.

Angin berhembus pelan. Pintu kamar tengah terbuka. Ummi tadi menawarkan kami beristirahat di kamar sakral itu. Merasai lembab dan dinginnya.

Aku sangat menginginkan itu bersama mas Birru, tapi aku tak tahu, apakah kedatangannya nanti semakin hangat, atau semakin beku?

Aku kini tak bisa apa apa. Rasa cemburu membakar seluruh pengetahuan yang kupunya.

Aku takut kehilangan dia.


Oleh : Khilma Anis.

Tinggalkan Balasan