Hati Suhita — Eps 12

“Kenapa, Lin?”

Mas Birru masuk kamar. Ia meletakkan hapenya di atas meja rias. Ia duduk di sisiku. Kaget melihat air mataku berderai-derai.

“Mboten, Gus. Tidak apa apa.”
Aku mengangkat kepalaku. Menurunkan sepuluh jariku yang sejak tadi kugunakan menutup wajahku yang penuh air mata. Aku mencoba tersenyum. Menatapnya. Tapi air mataku masih jatuh menganak sungai.

“Terima kasih, ya, sudah menjamu tamuku dengan baik.”

“Inggih. Itu sudah tugas saya sebagai istri.” Jawabku pelan. Mestinya aku senang dia sudah mengucapkan terimakasih. Tapi hatiku terlanjur sakit. Aku ingat ia menatap Ratna Rengganis dengan penuh kekaguman. Aku ingat dia lupa memperkenalkanku di depan tamu tamunya. Entah karena saking asyiknya dia bicara. Atau dia tidak sengaja.

“Kamu kenapa nangis sampai begitu? Capek?”

“Mboten, Gus. Saya … Saya cuma pengen pulang. Saya kangen ibu.”

Dia terhenyak. Terdiam lama. Lalu merapatkan duduknya.

“Bolehkah saya pulang, Gus? Kalau njenengan repot, saya bisa minta antar kang Muhlis.”

Dia mengulurkan tangannya ke belakang, menyentuh pundakku. Menaruhnya di sana. Aku diam tidak bergerak. Bayangan ibu terus muncul di kepalaku.

“Lin, aku minta maaf. Aku butuh penyesuaian. Kita kan, baru kenal. Jadi dalam beberapa hal aku belum bisa memperlakukan kamu dengan baik.”

“Inggih. Itu tidak masalah. Saya faham, Gus. Saya faham. Saya cuma pengen pulang.”

Tangisku meledak lagi. Tangannya masih di pundakku. Ia memiringkan kepala. Menatapku.

“Nanti kalau ummi datang, trus nyari kamu, bagaimana?”

“Ummi tidak akan marah, gus. Sejak kapan ada menantu dimarahi karena pulang ke rumah ibunya sendiri?”

“Kita tunggu, ummi ya, Lin.”

“Tidak usah. Nanti saja saya telpon. Ummi pasti mengizinkan. Saya tahu ummi. Saya siap siap, nggih.” Aku beranjak berdiri. Dia menarik tanganku. Aku terduduk lagi.

“Lin. Katakan, kamu mau kemana, ke mall? Ke pantai? Atau ke rumah Aruna?”

“Tidak, Gus. Tidak. Saya cuma pengen ketemu ibuk. Itu saja.”

Dia menghela napas panjang. Kami begitu dekat. Aku bisa merasai hangat nafasnya. Aku ingin menyandarkan kepalaku ke dadanya tapi itu tidak mungkin.

“Maafkan aku, Lin. Kamu marah melihat tamuku tadi ya?”

Aku diam.

“Iya?”

Aku diam.

“Lin?”

Aku diam.

“Aku tidak memintanya datang. Mereka habis acara seminar di Surabaya. Acara itu hasil kerjasamaku. Mereka melihat aku sakit beberapa hari terakhir di kantor. Lalu aku tumbang beneran. Jadi mereka mampir.”

Aku diam. Bukan itu yang ingin kudengar. Tapi perasaannya pada Rengganis. Bagaimana awal mereka bertemu. Kenapa Rengganis begitu spesial. Dan apakah ia berencana memboyong Rengganis ke rumah ini. Rengganis tahu kalau ia sudah menikah. Kenapa ia masih saja menelponnya?

“Tidak usah pulang, Lin. Kamu masih emosi. Nanti jadinya tidak baik.”

Tidak baik apa maksudnya? Dia takut aku mengadu pada ibu. Lalu ibu mengadu pada ummi. Lalu ummi memarahinya habis habisan sampai dia hancur? Kenapa baru sekarang ia merasa perlakuannya selama ini memang tidak baik, seolah aku tidak berhak bahagia?

“Saya kangen ibu, Gus.”

Dia menggenggam tanganku. Rupanya ia sangat takut aku pulang. Aku baru tahu sekarang. Ternyata aku punya kekuatan dan dia punya kelemahan.

“Jangan sekarang, ya. Kamu masih emosi. Seminggu lagi, kuantar.”

Aku menggeleng. “Sekarang, Gus. Saya kangen ibuk.”

Tangannya berpindah ke ubun ubunku, membelainya lembut.

“Kita makan di luar, ya.”

Dia mencoba merayuku rupanya. Padahal di rumah banyak makanan. Padahal dia baru saja makan begitu lahap bersama tamunya,

“Kamu kan, belum makan. Kenapa tidak ikut makan bareng tadi, hmm?” Suaranya melembut.

“Tidak apa apa, Gus. Saya tidak terbiasa makan satu meja dengan laki-laki.”

“Oh, ya. Oke. Ayo kuantar. Mau makan apa?”

“Mboten, Gus. Saya cuma pengen pulang.”

Dia terdiam. Aku tidak bisa menebak pikirannya. Dia sudah ratusan kali melihatku menangis tapi baru kali ini begitu panik. Apakah dia begitu karena baru kali ini aku mengancam pulang?

Takutkah ia kalau aku mengadu pada ibu dan keluarga besarku? Takutkah ia kalau kubongkar rahasia kami? Apakah dia baru sadar kalau aku punya orang tua yang tentu tidak terima aku diperlakukan begini?

“Kamu belum pernah ke kafeku, ya. Kuajak yuk?”

Isakku berhenti. Kuberanikan diri menatapnya.

“Pernah lewat depannya saja. Pas nganter ummi kontrol. Kalau masuk belum pernah. Wong gak pernah diajak. Saya kan di pondok, tok. Tidak pernah diajak kemana-mana. ”

Dia tersenyum. Menaruh tangannya di pundakku lagi, “ya, oke. Kita ke sana sekarang. Pulangnya ditunda dulu, ya?”

Aku mengangguk. Air mataku langsung kering. Aku begitu bahagia. Baru pertama ini ia mengajakku pergi atas inisiatifnya sendiri. Biasanya pasti karena permintaan ummi. Aku sering mendengar soal kafe itu dari orang lain, tapi mas Birru belum pernah cerita. Tentu aku bahagia hendak di bawa ke sana.

“Tunggu di mobil, Gus. Saya mau ganti baju sebentar.”

“Tidak usah.”

Bagaimana maksudnya ini? Aku memintanya keluar sebab aku tidak pernah berganti baju di depannya. Aku enggan ganti di kamar mandi sebab dress ku ini bagian bawahnya menjuntai dan pasti basah. Aku memintanya keluar kamar dan dia bilang tidak usah. Apa dia mau menontonku ganti baju?

“Maksudku, tidak usah ganti baju. Kamu cantik pakai baju itu. Ayo!”

Dunia seperti berhenti berputar. Belum pernah aku mendengarnya memujiku. Aku tidak tahu dia tulus atau tidak. Aku tidak tahu ia ingin mengajakku ke kafenya karena memang dia ingin membahagiakanku, atau sekedar takut ancamanku minta pulang. Tapi aku sangat bahagia.

Sepanjang jalan, aku lebih banyak diam. Hujan sudah reda. Airnya menggenang mengalir pelan menuju parit-parit dan sungai-sungai. Pohon-pohon, rumah-rumah, mobil-mobil, basah kena titik-titik air, hatiku juga basah melihatnya sama sekali tidak menyentuh hapenya padahal kudengar beberapa kali berdenting.

“Kapan ummi pulang?”

“Besok katanya, Gus.”

Dia berdendang kecil di balik kemudi. Hidungnya, jambangnya, bibirnya, dagunya. Dia menatapku yang menatapnya.

“Ummi tidak pernah menelponku.”

“Iya, tapi telpon saya, Gus.”

“Kapan?”

“Tadi, pas ada tamu.”

“Aku gak liat kamu angkat telpon?”

“Tadi, pas saya terlambat bikin minum. Itu ummi barusan telpon.”

“Oh maaf, ya. Aku tidak tahu.”

Aku mengangguk. Menahan senyum.

“Sehat kan ya, abah sama ummi di perjalanan? Aku sebenarnya sangat khawatir kalau abah pergi rombongan ziarah. Mereka berdua sudah sepuh. Naik turun bis. Sudah kularang tapi ya, maksa. ”

“Tidak apa apa, Gus. Beliau berdua bahagia mengantar jamaahnya.”

“Dari kemaren sudah minta kuantar ke wali sembilan naik mobil ini, berempat sama kamu. Seminggu di perjalanan gak papa katanya. Aku memang lama sekali tidak pergi ziarah sama abah dan ummi.”

“Kenapa belum dituruti?”

“Aku repot, Lin. Belum ada waktu.”

“Sempatkan dulu, Gus. Mumpung beliau masih sehat. Kalau njenengan tidak mau saya ikut, ya, tidak apa apa. Saya bisa pulang ke rumah Ibu. Tapi njenengan antar abah dan ummi ziarah wali. Pasti mereka berdua punya maksud ingin mendoakan njenengan.”

“Lho, siapa yang bilang aku tidak pengen ngajak kamu? Ya, kamu pasti ikut. Wong kita berdua yang mau di doakan.”

Hatiku berangsur hangat. Aku tidak boleh meminta lebih. Aku harus mensyukurinya. Dia sudah mau mengajakku bicara. Sudah bisa bilang terima kasih dan meminta maaf. Dia mengajakku pergi lalu kami membahas soal ummi. Sentuhan itu hanya soal waktu dan aku harus bersabar menantinya.

Aku tau, dalam ziarahnya, ummi pasti mendoakanku mati-matian. Aku sendiri tak pernah bosan merapal doa sekaligus menyebut namanya, nama suamiku, Abu Raihan Albirruni. Nama seorang Ilmuwan muslim yang ahli astronomi, ahli matematika, sekaligus ahli sejarah, yang diambil abah untuk menjadi nama suamiku.

Abah tentu ingin putranya menjadi orang yang hebat seperti. Al Birruni. Minimal abah pasti mendoakan mas Birru agar bisa diandalkan meneruskan pesantren kami.

Mobil meninggalkan jalan raya, merayap pelan menuju sebuah jalan kecil dengan pemandangan gunung dan sawah yang menghijau. Sejauh mata memandang, padi-padi terhampar. Bergoyang riang diterpa angin.

Mobil berbelok ke sebuah bagunan kafe dengan halaman luas. Aku takjub dengan megahnya kafe sekaligus hijaunya padi yang mengelilinginya. Air sungai mengalir deras. Mas Birru memarkir mobilnya di bawah pohon Jati.

Aku menatap tiga bangunan utama, kafe di sebelah timur, bangunan seperti limasan di tengah, lalu musholla yang luas dan lapang di sebelah barat. Seluruhnya dari kayu. Atapnya joglo pencu. Limasan itu luas sekali seperti bisa dipakai ruang pertemuan ratusan orang. Tiga bangunan ini berada di tengah sawah dengan padi yang menghampar hijau.

Tanah basah. Ujung ujung padi basah. Dan hatiku yang basah. Kafe ini menawarkan pemandangan yang luas dan terbuka. Seluruh tempat duduknya terbuat dari kayu. Sekat sekatnya rendah. Semua pengunjung bebas melihat alam.
Di sisi timur, di samping sungai, pohon pohon diatur sedemikian rupa menambah keasrian kafe. Deretan lampu menggantung saling terkait di reranting. Sebentar lagi, saat gelap datang dan lampu menyala, pastilah cahayanya indah temaram.

Tumbuhan parikesit dipasang di pot-pot besar. Berjajar memenuhi setiap sudut dengan air yang menggenang di bibir pot. Tanaman gantung memenuhi bagian atas. Rumput-rumput hijau sehat terawat. Palem merah berdiri kokoh berbaris rapat. Bunga Kamboja di pot-pot kecil seperti mengucapkan selamat datang.

Aku memilih tempat duduk di sudut paling barat, agar bisa leluasa melihat ke manapun. Melihat kehidupan suamiku dari dekat.

Di sampingku, bunga kenanga sedang mekar. Wanginya membuatku teringat kakek yang kusayang, yang menamaiku Alina Suhita agar aku selalu tegar.

Aku memandang area persawahan, merasai udara yang menyejukkan, dan mendengar gemericik air sungai. Pantas saja mas Birru begitu kerasan di tempat ini.

Di sampingku bangku melingkar permanen dilapisi bantal empuk. Tak jauh dari situ, ruangan kecil berdinding kaca dikelilingi kolam ikan dengan air yang beriak-riak. Di dalamnya, sofa berwarna orange menyala dan meja dari marmer. Proyektor dan AC terpasang di dinding. Mungkin ruangan kaca ini sering dipakai rapat. Aku takjub melihat paduan interior yang modern sekaligus klasik.

“Sebentar, ya.” Mas Birru menaruh kunci mobil di atas mejaku. Ia berjalan ke belakang, semua pegawai berdiri lalu bersalaman. Aku tersenyum karena itu seperti kebiasaan di pondok pesantren.

Ia berbicara kepada seorang pegawai sambil menunjuk ke arahku dengan dagunya. Aku tidak tahu apa yang dia katakan lalu satu persatu mereka mendatangiku dan bersalaman. Aku bahagia sekali sebab mereka tahu aku istri mas Birru.

Kami berkenalan dengan riang, aku bertanya macam-macam tentang dari mana mereka berasal. lalu satu diantaranya menanyaiku mau minum dan makan apa. Aku minta jus alpukat dan ayam betutu.

Saat mas Birru datang, mereka berlalu.

“Mereka santri semua ta, Gus?”

“Bukan. Tidak ada satu santri pun. Wong njobo semua. Tidak mungkin abah mengizinkan santrinya ta bawa ke sini.”

Aku terdiam. Melihat sinar matanya begitu hampa.

“Abah tidak pernah mendukung kafe ini, Lin. Walau berkali-kali kujelaskan kalau ini bukan sekedar tempat bersenang-senang. Coba lihat itu. Panggung musik. Tapi di sebelahnya ada perpustakaan. Sederhana. Tapi cukup buat nemenin temen-temen ngopi dan diskusi.”

Aku sedikit melongokkan kepala. Ada kursi-kursi tua dari rotan. Ada buku-buku dan majalah berserakan. Ada poster-poster tokoh yang tidak aku kenal.

“Itu, limasan, yang mirip pendopo, kubuat memang untuk ruang pertemuan. Kader-kaderku. Senior-seniorku. Mahasiswa atau pelajar. Siapapun. Boleh gelar acara di sini.”

Aku menoleh, bangunannya memang seperti pendopo. Banyak tiang dan penuh ukiran kayu.

“Abah tahu, Gus, kalau tempat ini bermanfaat?”

“Tahu, tapi tetap tidak banyak berkomentar. Bahkan abah tahu kalau mushola itu, tiap malam jumat buat tempat tahlil dan istighosah teman-teman. Nanti di belakangnya akan kamu lihat panggung terbuka. Di situ biasa ditempati pertunjukan teater.” Matanya nanar. Ia memiliki kebanggaan yang tidak dimengerti orang tuanya.

“Mungkin abah bukan tidak setuju, Gus. Abah cuma belum tahu.”

“Ah, abah memang begitu. Aku itu baru dianggap hebat di mata abah kalau aku melangkah di jalur cita-citanya. Selain itu ya, apapun usahaku ya, dianggap biasa saja. Tidak hebat.”

Aku tahu sekarang. Mas Birru begitu berjarak dengan abah. Pantas saja abah lebih sering bercengkrama denganku daripada putra kandungnya sendiri. Aku bingung harus melontarkan kalimat apa. Sebab aku tahu, abah bermaksud baik. Beliau ingin putranya menyiapkan diri meneruskan pesantrennya. Tapi aku juga tahu mas Birru, yang ingin seperti lumrahnya pemuda, yang punya cita-cita dan lain-lain.

“Semua ini karena ummi, Lin. Ummi diam-diam mendukungku. Modal awalnya juga dari ummi. ” Matanya menerawang jauh. Ia terluka karena tidak dipercaya.

Pantas saja mas Birru begitu mencintai ummi. Pantas saja mas Birru tidak pernah membantah ummi. Bahkan ia manut saja saat ummi memilihkan masa depannya dan menghadirkanku dalam hidupnya. Ia begitu menyayanginya.

Pesananku datang. Mas Birru meninggalkanku. Mempersilakanku makan. Aku ingin dia tetap di sampingku tapi tidak mungkin. Sudah bagus dia mau cerita walaupun hanya seputar abah dan ummi.

Dia duduk di kursi rotan. Di dekat rak kayu di mana buku-buku tebal tergeletak. Beberapa pelanggan menyalaminya penuh takdzim. Ia mengambil gitar. Aku tidak bisa menangkap nadanya karena begitu jauh. Kakinya selonjoran di tepian meja. Ia menatap lurus ke sawah. Siapakah yang ia bayangkan? Rengganiskah atau siapa?

Aku tidak peduli lagi. Bahagialah, mas Birru. Kembangkan bisnismu. Bergaullah seluas luasnya. Abah dan ummi biar jadi urusanku. Pesantrenmu biar berkembang di tanganku. Aku hanya minta satu. Genggam aku. Kuasai hatiku. Jangan menyakitiku. Aku akan tetap tinggal di kerajaanmu. Kau akan bergembira di duniamu.

Kusudahi makanku lalu kuedarkan pandangan. Pohon-pohon kopi mengelilingi seluruh bangunan. Tidak terlalu subur tapi bunganya meruapkan bau harum. Angin segar membelai pipiku. Pemandangan hijau menyejukkan mataku.

Adzan Magrib berkumandang. Kafe ditutup. Semua pelayan tertawa-tawa sambil antri wudlu seperti kang-kang di pondok. Aku terkaget kaget karena kafe ini punya budaya yang tidak biasa.

Mas Birru mengambil kunci mobil di depanku lalu pergi dan kembali dengan memberiku mukena. Ia mengambilkannya tanpa kuminta. Sebelum aku mengucapkan terima kasih dia sudah ngeloyor pergi menuju mushola.

Kami shalat berjamaah. Mas Birru jadi imamnya. Aku berdiri di shaf paling belakang dan tak henti meneteskan air mata.

Aku selalu menyalahkan mas Birru karena tidak peduli padaku, padahal aku sendiri tak mengenal kehidupannya. Aku sendiri tak tahu menahu kecamuk hatinya.

Kupikir, akulah manusia paling terlunta. Sedangkan dia, sepanjang hidupnya, selalu berbeda pendapat dengan abah. Dia yang ingin bebas. Dia yang ingin lepas. Dia yang ingin membuktikan kalau dia mampu hidup tanpa bayang-bayang abah dan pesantren.

Sementara abah, abah begitu mengandalkannya. Pesantren kami begitu besar dan abah sudah sepuh. Setiap waktu, abah ingin dia pulang dan bersimpuh. Tenang. Fokus. Meminta semangat abah. Memohon ilmu-ilmu abah.

Aku ada diantara mereka berdua. Menjadi penengah.

Sepanjang shalat, dzikir dan doa, sampai semua orang sudah kembali ke kafe, aku menangis tergugu. Menyesal karena aku tenggelam dalam dukaku sendiri dan itu membuatku tak bisa memahaminya.

Ia bersila, khusu’ berdoa. Aku menantinya sambil berdebar-debar melihat tangan itu tadi menyentuh pundakku dan menggenggam jemariku.

Ia mengangkat kedua tangan dan menengadah. Laki-lakiku. Mustika Ampal ku, ternyata merana karena tidak dipercaya. Dan aku tidak tahu perasaannya. Aku tidak boleh meninggalkannya.

Ia mengakhiri doanya lalu menoleh. Senyumnya membuatku terpasung dalam keindahan yang agung. Aku mendekat.

“Gus, besok kalau ummi datang, saya pulang, nggih.” Aku menggodanya. Aku menyukai kepanikannya.

“Kalau kamu sudah tenang, boleh saja kamu pulang. Tapi jangan minggu-minggu ini. Aku sangat sibuk.”

“Nggih, gak papa. Bulan depan gak papa. Saya sabar nunggu. Njenengan nganter saya, tok apa menginap?” Aku memancingnya.

Dia tergagap. “Kalau hanya kuantar. Lalu aku pulang. Apa abah ummi dan ayah ibu tidak curiga?”

“Ya, curiga pasti. Mana ada pengantin baru pisah-pisahan? Hehe. Tapi tidak apa-apa. Nanti saya jelaskan kalau njenengan sibuk.” Aku mengerling.

“Ya. Oke. Kuantar.”

“Saya mau seminggu di rumah ibuk.”

“Tiga hari saja, ya.”

“Seminggu. Saya lho, di rumah njenengan sudah delapan bulan.”

“Masak sudah delapan bulan?”

Dia terbelalak. Tidak tahukah dia kalau itu berarti lebih dari seratus lima puluh hari dan kulalui dengan hampa? Lupakah dia?

“Iya. Sampun delapan bulan.”

Ia terhenyak. Menatap lurus ke dalam mataku.

“Gini, Lin. Aku nginap di rumah ibuk 3 hari. Lalu aku pulang. Nanti kamu kujemput kalau sudah genap seminggu. Bagaimana?”

“Inggih. Gak papa. Tapi … ”

“Tapi apa?”

“Eh, mboten.”

“lho. Kenapa?”

“Mboten, Gus. Tidak apa-apa.”

“Bicaralah.”

“Tidak, Gus. Tidak. Oke, saya setuju.”

“Tadi kamu mau ngomong apa?”

“Mboten, Gus. Mboten.”

“Lin?”

“Begini, Gus. Di kamar saya, tidak ada sofa.”

Dia tertawa. Menggeleng kecil. Matanya menyipit. Barisan giginya tampak rapi. Matanya menatapku. Aku memalingkan muka karena malu.

Mas Birru lalu mengajakku berkeliling. Mega merah di ufuk barat mulai menghilang. Lampu lampu kafe menyala temaram. Bergantungan di pohon pohon. Mengambil alih seluruh inti keindahan. Suara air sungai makin hilang, berganti suara musik yang mengalun pelan.

Pelanggan mulai datang menduduki kursi-kursi kayu. Gazebo bambu beratap ijuk mulai dipenuhi segerombolan anak muda yang tergelak-gelak bahagia. Perpustakaan kecilnya ramai sampai ada yang tidur tengkurap dan telentang.

Kami duduk di tepi limasan. Berdua. Angin malam mengibarkan ujung jilbabku. Entah kenapa pikiranku begitu lapang. Aku lupa kesedihanku. Aku lupa nasihat Aruna untuk memberi mas Birru pelajaran. Aku lupa soal kang Dharma apalagi Rengganis.

Yang kuingat adalah aku harus pelan-pelan memahami dunia mas Birru. Sesedih-sedihnya aku, aku masih punya abah dan ummi. Sedang dia begitu terasing di tengah dinastinya sendiri.

“Gus, saya harus pulang. Saya ada rapat sama ustadz ustazah diniyah habis isya.”

“Sini dulu.”

” Tapi saya yang mimpin rapat, Gus. Saya sudah janji. Antar saya pulang, nggih.”

“Siapa kepala diniyah sekarang?”

“Kang Ilham, Gus.”

Dia mengambil hape dari saku. Aku melirik sekilas. Dia menelpon.

“Ham, Rapate di tunda besok. Ning Alin ada acara.” Suaranya penuh tekanan.

Aku menyembunyikan senyum.

Kami berjalan melihat tempat pementasan. Lampu lampu kuning di pohon berayun kena angin. Suasana begitu tenang. Pundak kami bergesekan.

“Aku lapar, Lin. Kita makan, ya.”

” Inggih.”

Aku berbelok ke arah kafe. Dia menarik tanganku menuju mobil. Ia bilang, ia ingin makan ikan wader. Warungnya tidak bagus tapi baginya itu wader terlezat.

Sepanjang jalan, aku tak henti bersyukur. Rengganis mungkin memesona, tapi ikatan sakral bernama pernikahan, akulah yang menggenggamnya. Tidak ada gunanya aku berputus asa.

Kami sampai di sebuah tikungan yang gelap. Mas Birru memarkir mobil di depan bekas pabrik. Lalu kami berjalan menuju warung tenda dengan spanduk kotor bergambar ikan-ikan laut.

Mas Birru tidak menggandengku tapi berkali-kali berhenti memastikan aku bisa melangkah melalui jalan yang becek sehabis hujan.

Ia meraih tanganku, memberitahu lewat mana kami harus masuk. Aku melihat wajan besar berisi minyak hitam dan kompor yang menyala berisik. Melihat mas Birru datang, penjualnya tergopoh menyalami mas Birru padahal tangannya penuh sambal.

“Istrinya, Gus?”

“Iya, ini istriku.”

Mas Birru sedikit menaikkan suara karena suara kompor begitu memekakkan telinga. Aku hampir menangis mendengar mas Birru mengatakan itu.

Aku menatap sekeliling. Suamiku punya kafe yang megah dan tenang dengan menu-menu lezat tapi dia membawaku ke tempat ini. Aku tidak pernah membayangkan ini. Seumur umur aku belum pernah makan di tempat seperti ini. Warung tenda yang remang. Dan tempatnya tersembunyi. Aruna pasti marah-marah kalau kuajak makan di tempat seperti ini. Apalagi melihat minyak di wajan begitu hitam. Tapi aku tak henti tersenyum karena inilah kencanku pertama kali.

Aku mengedarkan pandangan. Dimanakah kami duduk? Kursi-kursi panjang di dalam penuh terisi. Aku sedikit mengangkat gamisku karena tanahnya kotor. Mas Birru tetap bersemangat.

Aku memegang ujung kemejanya, memberanikan diri berbisik untuk mengajaknya makan di dalam mobil. Tapi dia menggeleng menunjuk satu sudut tanah berbatu. Tepat di bawah pohon randu dengan lampu yang menggantung dinaungi kaleng biskuit.

Penjual segera tahu maksud mas Birru lalu membawakannya sebuah tikar kumal. Mas Birru sendiri yang menggelarnya sambil bilang pesan wader dua porsi. Begitulah dia selalu mengambil kuasa. Tanpa bertanya aku doyan atau tidak. Tidak bertanya aku ingin makan atau tidak. Aku sebenarnya masih kenyang.

Aku duduk bersimpuh. Dekat dengan tubuhnya tapi tak berani kutempelkan. Tidak ada pemandangan apapun selain gelap dan sedikit cahaya dari lampu kaleng di atas kami.

Nyamuk-nyamuk merubung wajahku. Kakiku mulai gatal. Mungkin tikarnya tidak bersih jadi banyak kuman. Tapi mas Birru tenang sekali. Aku bergerak ke kanan kiri mencari posisi yang pas karena dibawah tikar ini batu-batu lancip dan aku tidak nyaman duduk.

Aku diam tak bergerak ketika tak sengaja tangan mas Birru terkulai di pahaku. Tubuhku bergetar hebat dan dia tak tahu.

Mas Birru makan dengan lahap sampai dahinya berkeringat. Pucuk-pucuk hidungnya basah. Aku berdebar melihat keringatnya menetes.

Selesai makan ia menyelupkan jarinya di mangkok cuci tangan. Airnya langsung kotor. Jadi ia mencelupkan tangannya sekali lagi di mangkok cuci tanganku. Aku bersungut sungut tapi dia tertawa lebar.

Aku tidak suka wader. Perutku masih kenyang. Jadi hanya kumakan yang paling kecil. Mas Birru memakan jatahku tanpa minta izin padaku. Nasiku juga diambilnya separuh. Aku bahagia karena dia tidak canggung.

“Coba, Lin.” Waderku yang paling besar diambilnya, dibelah durinya, lalu dagingnya yang hanya sepucuk jari diletakkan di ujung piringku tanpa mengatakan apa-apa.

Itulah makanan ternikmat karena kekasihku yang dingin telah mengambil duri-durinya.

Mas Birru selesai lebih dulu. Ia tertawa melihatku kepedasan lalu berjalan cepat meminta air hangat pada penjualnya agar rasa panas di bibirku lekas lenyap. Entah kenapa aku begitu bahagia walau tidak banyak yang kami bicarakan.

Kemudian ia membuka tasku, mengambil tisu. Memunguti bulir-bulir nasi yang berceceran. Dia tahu aku bingung bagaimana harus mencuci tanganku dan tidak mungkin begitu saja kucelupkan di mangkok cuci tangan yang dua-duanya sudah kotor.
Dia berjalan pelan. Mengambil air mineral di mobil lalu duduk di sampingku. Tangan kananku yang penuh sambal ditarik ke arah kanan. Di luar tikar. Ia meletakkan tanganku diatas tangannya. Lalu mengucurinya dengan air. Ujung-ujung jarinya manyentuh sela-sela jariku. Ia mencuci tanganku sampai bersih. Tak bisa lagi kubendung kebahagiaanku.

Saat ia mengeringkan tanganku dengan tisu, hapenya berdering, ia tetap di sisiku. Satu tangannya masih memegang tanganku. Sayup-sayup kudengar pembicaraan panjang soal pertemuan, event, dan seminar. Telpon lalu ditutup dan tanganku dilepaskannya.

“Lin,”

“Dalem, Gus.”

“Nanti malam siapkan baju untuk tiga hari, ya. Aku harus ke Bandung.”

Aku mengangguk. Langsung lemas karena dia harus pergi saat kedekatan kami malam ini mulai terbentuk.

“Mbak Ratna ikut, Gus?”

“Iya, ikut. Dia kan tim kreatif yang ditunjuk langsung sama kantor pusat.”
Mendadak ulu hatiku begitu nyeri,
“Berapa orang, Gus?”

“Lima belasan mungkin.”

Mendengar kalimat terakhirnya, sedihku sedikit bisa kuredam. Banyak orang artinya tidak terlalu menghawatirkan. Aku tidak bisa menghalanginya pergi. Mereka satu tim. Itu memang dunianya. Aku harus terbiasa.

“Kamu tetap di rumah. Jangan pulang dulu ke rumah ibu.”

“Inggih.”

Aku mengangguk lemah.

Duh gustiii ….Dia harus pergi saat hatinya sudah melunak.

Ia membayar makanan lalu berpamitan dengan penjualnya sambil tergelak-gelak seperti sudah lama kenal. Aku menantinya di bawah pohon randu. Ia meraih telapakku. Menggandengku menuju mobil.

Dialah Birruku, yang langsung kehilangan kekuatan saat kubilang, aku ingin pulang ke rumah Ibu, lalu memberiku banyak kebahagiaan.

Dialah Birruku, yang tiga hari ke depan akan pergi ke Bandung meninggalkanku.

Aku sangat khawatir, tapi genggaman tangannya meyakinkanku.


Oleh: Khilma Anis.

Tinggalkan Balasan