Hati Suhita — Eps 11

Mas Birru berdiri di sisiku. Ia baru saja mandi. Rambutnya basah. Ia memakai sarung hitam dan hem merah hati yang membuat kulitnya kian terlihat bening. Harum tubuhnya membuatku menggeletar dalam getar sampai aku sadar, ia tampil mempesona bukan untukku, tapi untuk tamunya yang tak ku tahu siapa.

Aku menata dompolan anggur hijau dalam talam kristal di atas meja makan. Ia mengecek masakanku sambil tersenyum puas tapi tidak mengatakan apapun walau selarik kalimat terimakasih.

Di atas meja, beberapa makanan tersaji. Pepes tongkol, cumi hitam, udang asam manis kesukaan mas Birru. Masih ku tambah kakap santan pedas. Tidak ketinggalan gurami dan kerapu goreng. Tentu saja sayur asam dan sambal turut menyemarakkan. Mas Birru menolak dahar lebih dulu dan bilang akan makan bersama tamunya.

Aku sudah dandan dan sudah memakai parfum. Aku memakai gamis ungu muda sekaligus jilbabnya yang sedikit lebar tapi modern. Baju ini Ummi yang membelikannya. Beliau senang melihatku memakai gamis yang satu set dengan jilbabnya. Aku bertanya kepada mbak ndalem, apakah lipstikku terlalu mencolok, mereka malah terbelalak dan bilang aku terlihat sangat cantik.

Mereka tidak tahu, aku dandan seperti apapun, gusnya yang dingin tidak pernah melihatku, apalagi memujiku. Tapi aku harus tetap berusaha tampil maksimal sebab menjaga marwah suamiku. Aku menjunjung tinggi kehormatannya. Siapapun tamunya, harus tau bahwa kami berdua adalah pasangan yang pengantin baru yang berbahagia. Mereka tidak boleh tahu, apa yang sesungguhnya terjadi di antara kami. Kesenyapan malam malam kami.

Hujan turun dengan derasnya. Mas Birru menanti tamunya di beranda. Ia tidak mengajakku. Jadi aku diam di kursi makan yang bersebelahan dengan ruang tamu. Kulihat rinai hujan dan air yang mengalir. Kulihat air hujan membasuh anggrek anggrekku. Kulihat air mengaliri delima dan melatiku. Kulihat suamiku, yang mondar mandir sambil sesekali menatap langit seolah ia begitu khawatir tamunya tidak jadi mampir.

Aku berdebar debar saat deru mobil terdengar pelan menembus kemeretak hujan lalu suara mesinnya berhenti di depan pondok putra.

Parkiran kami dipenuhi mobil Abah, mobil mas Birru, dan mobil pondok yang berderet deret. Jadi mobil itu berhenti tepat di depan kantor Diniyah. Butuh sekitar dua puluh langkah untuk sampai beranda kami padahal hujan belum juga reda.

Aku ingin berlari mengambilkan payung tapi takut mas Birru tidak berkenan. Jadi aku diam dan berdiri kaku di samping jendela ruang makan. Kulihat lima orang laki laki bergantian turun menembus guyuran hujan.

Lalu kulihat seorang perempuan turun dari mobil bagian depan. Ia memakai celana jins dan tunic panjang sampai jauh di bawah lutut. Bajunya berwarna tosca. Jilbabnya juga tosca campur warna merah abstrak. Ia mengaitkan ujung jilbabnya ke belakang leher jadi kalung etniknya yang berwarna warni tampak memikat.

Ia berlari kecil menembus rintik rintik air. Tas kulit merahnya ia gunakan menutupi kepala, tapi tidak menghalangiku untuk segera tahu bahwa perempuan itu adalah Rengganis. Perempuan yang sering menelepon dan ditelpon suamiku.

Jantungku berdentum bagai genderang perang. Nafasku tiba tiba saja sejak. Dan aku begitu lunglai. Dialah yang membuat mas Birru selalu dingin. Dialah yang membuat mas Birru, sampai sekarang, masih belum bisa menerima perjodohan kami.

Bagaimana mungkin aku menghadapinya sendirian sedang mas Birru di pihaknya? Aku ingin menariknya ke sebuah sudut lalu memohon kepadanya, untuk tidak perlu menjalin komunikasi dengan mas Birru, tapi itu tidak mungkin. Sebab dia adalah tamu. Aku harus hurmat tamu sebaik yang diajarkan kitab kitab kuning.

Saat aku akan menyelinap ke kamar untuk menghapus air mataku yang berjatuhan, telponku berdiring, aku duduk agar suaraku terdengar stabil.

“lin?”

“Dalem ummi.” Aku menahan isak. Aku ingin menceritakan kalau putranya kemarin sakit, sudah kurawat, lalu justru membalas kebaikanku dengan sayat sayat sembilu, tapi aku tak bisa mengatakannya.

“Ummi lagi di makam mbah Soleh Darat lho ini. Awakmu wes pernah lin?”

“Dereng, Mi.”

“lho. Belum? Kalau ke mbah Sunan Prawoto?”

“Belum,”

“Ke mbah Mutamakkin juga belum?”

“Dereng, Mi.” Aku tidak berani bertanya lebih jauh sebab takut Ummi menangkap suaraku yang parau. Lihatlah Ummiku, mertuaku, yang begitu perhatian padaku. Lihatkah suamiku. Yang begitu beku di depanku tapi bisa tergelak gelak bersama teman-temannya padahal ia baru sembuh. Seoalah diamnya padaku setiap hari adalah upaya menyerangku dengan kemurungan kemurungan, sampai aku sadar, aku tak mungkin bisa membuatnya tersenyum.

“Aduh mesakke. Mbesuk ta jak ya lin. Mana Birru?”

Aku terdiam, hampir menangis. Hampir mengatakan kalau ia kedatangan banyak tamu, tapi ada satu perempuan yang begitu cantik. Perempuan yang membuat putranya tidak pernah mau melihatku. Dan menyentuhku.

“Mas Birru wonten.. Wonten tamu.”

“Oh ya wes. Ummi gak enak mangan lin. Ummi pengen sambelmu.”

“Kapan ummi pulang?” Sahutku. Mataku berkaca kaca. Setiap aku hampir putus asa, Ummi selalu menunjukkan kalau aku jangan sampai jauh dari hidupnya.

“Besok lin. Tunggu kami ya.”

Ummi menutup telpon setelah aku bertanya bagaimana keadaan abah dan kemana lagi rute ziarahnya.

Ummi tidak tahu aku begitu hancur dan aku pucat seperti perempuan dalam kaca berembun. Bisakah aku menghadapinya sendirian?

“Mana minumnya?” Suara mas Birru mengangetkanku.

“Inggih gus, sebentar, mbak mbak persiapan diniyah jadi saya sendirian.”

“Agak cepat, mereka kedinginan.” Dia mengatakan itu lalu pergi.

Siapa yang kedinginan? Mereka atau Rengganis yang barusan terbasuh titik titik air? Sejak kapan mas Birru begitu perhatian pada tamunya sampai rela ke dapur menanyakan minum? Aku mengeram murka dalam piluku.

Aku berjalan pelan menuju ruang tamu sambil membawa tujuh cangkir kopi yang mengepul panas. Mas Birru tidak berhenti bicara saat aku datang, jadi tamunya tidak ada yang melirikku. Kecuali perempuan itu. Ia berdiri. Bergerak membantuku meletakkan kopi, lalu menghampiriku. Menjabat tanganku. Dan mencium pipiku kiri kanan.

Aku terpaku. Dia sangat cantik. Lebih cantik dari fotonya. Matanya bersinar sinar. Bibirnya mungil. Bulu matanya melengkung. Make upnya natural. Paduan warna merah dan tosca di jilbabnya pas sekali. Senyumnya manis berlesung pipi. Baunya harum.

Ia tidak canggung bertemu denganku. Justru aku yang gemetaran. Ia begitu pandai membawa diri. Orang orang seperti ini pasti dikagumi semua perempuan dan laki-laki. Ia mempesona.

Aku ingin mengamuk tapi aku tidak menemukan dendam di matanya. Aku ingin marah tapi aku tidak menemukan kebencian di dadanya. Aku ingin mengardiknya tapi tidak kutemukan cemburu dalam sikapnya. Dia santun dan berwibawa.

Mas Birru menggeser duduknya sebagai isyarat bahwa aku boleh duduk di sampingnya. Tapi ia terus bicara pada tamunya. Tidak memperkenalkanku. Aku duduk memangku bantal sambil melirik perempuan itu diam diam dalam diamku.

Jujur, ini tidak seperti yang kubayangkan. Kupikir Rengganis adalah gadis yang labil dan tidak tahu tata krama. Kupikir Rengganis adalah perempuan yang sewot dan manja. Kupikir, aku akan mudah menyingkirkannya karena Rengganis bukan tandinganku.

Tapi ternyata ia begitu kalem. Ia sama sekali tidak menampilkan keakraban kepada mas Birru. Mereka layaknya teman biasa. Ia menyimak mas Birru bicara seperti temen teman menyimaknya. Kenyataan ini membuatku makin pilu, sebab aku sadar, dia datang dalam kehidupan mas Birru lebih dulu dariku. Dia menguasai dunia dunia mas Birru. Tentu saja dia memahami mas Birru melebihi siapapun di dunia ini.

“Sek bentar, tadi di mobil, kamu bilang filem apa yang sedang kalian garap, na?” Kawan mas Birru yang bertubuh gendut bertanya pada Rengganis. Ia memanggilnya Ratna.

“Bukan filem, masih drama, buat mahasiswa dan pelajar kog, tentang Cleopatra. Ratu Syeba. Nefertiti. Batsyeba. Mungkin juga Eleanor dari Aquitaine.”

“Eleanor yang katamu dijuluki seorang ratu yang mengungguli seluruh ratu di dunia itu ya?” Temannya berkaos hitam menyahut.

“Iya.” Rengganis mengangguk. Senang karena merasa difahami. Mereka memang terlihat kawan yang akrab sejak lama.

“Kenapa gak drama tentang pendekar perempuan di Indonesia, na? Atau wayang wayang perempuan? ”

“Bertahap laah. Dari zaman kuno dulu.” Dia terkekeh. Lalu menjelaskan kalau dia tidak menangani langsung. Hanya bertanggung jawab dan membuatkan naskah saja. Dia sudah membentuk tim. Kebetulan saja dia punya sahabat kaya raya yang tinggal di Eropa yang menyukai seni dan mau mendanai pementasan anak anak muda yang kreatif. Dia meyakinkan teman temannya kalau ia akan tetap fokus mengelola sebuah rubrik di majalah dan menjalani hobinya travelling. Drama drama hanya kesibukan kecil.

“Berarti kapan kapan bisa bikin film di pesantren ya, Na?”

“Bisa pasti.”

Mas Birru begitu antusias menyimak obrolan ini. Selanjutnya, aku tak mendengar apa apa lagi. Aku tidak tahu apa yang mereka bahas. Aku merasa begitu bodoh dan tidak berwawasan. Dia ramah, supel dan bisa melintasi jarak. Aku tahu sekarang, kenapa mas Birru senang mengajaknya berdiskusi.

Kulihat mas Birru menatapnya dengan penuh rasa kagum. Perempuan ini pastilah sangat sangat menyenangkan. Tidak sepertiku yang malang. Pantas saja langitku tiada membiru. Kepalang awanku berarak kelabu. Tuanku menghunus sembilu dalam bisu. Hingga harapanku musnah menjadi abu. Ternyata perempuan ini menawan seperti Pelangi.

Melihat mas Birru tertawa bahagia saat menatapnya, jantungku serasa membengkak dengan kekuatan yang nyaris meledakkan tubuhku dari dalam.

Semudah itu, Ia, Rengganis, membuat mas Birru terpesona. Sedangkan aku mati matian melawan hasratku yang terpasung.

Semudah itu Rengganis membuatnya terbelalak kagum, sedang aku harus melewatkan malam malam yang memilukan dalam kesepian.

Dia, Rengganis, pancaran pikatnya
berpendar-pendar. Sejak kapan mas Birru mengenalnya dan sudah berapa lama?

Saat aku tak sengaja melihatnya bertatapan dengan mas Birru, aku begitu terlunta. Hatiku tercabik. Batinku tekoyak. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan selain mempersilahkan mereka makan.

Lihatlah mas Birru, yang kemarin sakit, sudah begitu sehat dan segar bugar. Ia makan begitu lahap dan tidak memuji masakan istrinya. Dari kejauhan, aku menggigit bibir membayangkan mas Birru makan lahap bukan karena masakanku, tapi karena kehadiran teman temannya, ditambah kehadiran perempuan yang selama ini bertahta di hatinya.

Aku tidak pernah membayangkan pertemuan ini akan terjadi. Kupikir, aku akan menemui Rengganis dengan Aruna lalu melabraknya, ternyata ia datang ke rumahku dengan pembawaanya yang begitu santun.

Aku yang pendiam, dia yang ceria. Aku yang tertutup, dia yang bisa bergaul dengan siapa saja. Apakah Ummi sudah pernah bertemu perempuan ini di masa lalu? Aku ingin menyerah. Tapi aku ingat kata Aruna bahwa namaku Suhita, dan aku adalah ratu. Aku tidak boleh kalah.

Tapi Ratu macam apa yang tak punya senjata sedang perang batinku begitu dahsyat?

Arjuna punya panah Pasopati. Kresna punya senjata cakra. Baladewa punya Nenggala yang mewarisi kekuatan dewa seluruh angkasa.

Rengganis punya kerinduan dan kekaguman mas Birru. Dengan apa aku harus melawannya?

Selesai makan, ia membawa piring piring kotor ke dapur. Aku menahannya. Dia tetap melakukannya. Dia bertanya berapa jumlah santri kami lalu kujawab seribu dua ratusan. Dia memanggilku mba Lina.

Lihatlah dia. Tidak ada sepercikpun kebenciannya tampak padaku. Dia bahkan tidak berbicara apapun dengan mas Birru dan hanya sesekali kontak mata. Aku bergetar menyadari perempuan ini juga pantas menjadi seorang ratu.

Aku menjerit dalam hati. Meredam tangisku sendiri. Aku ingin menyusul Ummi, mencari damai ke mbah Soleh Darat, ke Sunan Prawoto, ke mbah Mbah Mutamakkin. Aku ingin bersama Ummi. Aku tidak ingin menyaksikan pemandangan ini.

Mereka berpamitan dan tampak sangat akrab. Aku jadi tahu betapa berarti mas Birru dalam hidup mereka semua. Hujan sudah reda. Mereka bersalaman dan memeluk mas Birru, mengucapkan terimakasih atas jamuan kami. Aku menangkupkan telapakku di dada.

Rengganis tidak bersalaman dengan mas Birru. Ia memelukku dengan pelukan yang sulit kumengerti. Tapi aku tahu, mas Birru sangat ingin mengatakan sesuatu.

Aku berdiri di sisi mas Birru, menyaksikan tamunya satu persatu masuk mobil. Mas Birru bersandar pada pilar. Menatap mobil itu seolah di dalamnya ada permaisuri dan hendak ditandu dalam pengawalan para prajurit.

Aku menyelinap ke kamar, menutup pintunya pelan, lalu duduk di sofa.
Badai isak tangis memenuhi dadaku. Aku tak kuasa lagi membendungnya. Aku ingat bahwa aku tak punya sedikitpun kekuatan. Akulah bumi yang disiakan matahari. Sedang Rengganis adalah pelangi yang dicumbu langit biru.

Aku terisak sambil menutupi wajahku. Air mataku tumpah. Aku merasakannya mengalir melalui jari-jariku, turun ke dagu, aku tak bisa menghentikannya.

Ia seperti Sri kandi. Cantik, santun, berpengetahuan, dan dicintai mas Birru. bisakah aku setegar wara Subadra yang membagi Arjuna kalau kelak mas Birru memintanya tinggal di rumah ini?

Tidak, itu tidak boleh terjadi. Masih ada Abah dan ummi. Mas Birru adalah mustika Ampalku. Aku harus mempertahankannya. Atau aku akan hancur seperti Ekalaya.

Hujan turun lagi. Kali ini lebih deras. Aku menangis dalam gelap. Terisak dalam sunyi. Aku ingin lari menembus hujan. Menghambur ke pelukan Ibuku.

Akulah Suhita, yang dilukai di kerajaanku sendiri. Tanpa satu orangpun membelaku.


Oleh: Khilma Anis.

Tinggalkan Balasan