Hati Suhita — Eps 10

Kalau saja kami seromantis Wara Subadra dan Arjuna yang saking mesranya sampai dijuluki mimi lan mintuna, pastilah dalam sakitnya begini, tak henti kupijat badan mas Birru, lalu kubenamkan hidungku di pipinya agar dia lekas sembuh.

Sayangnya, sebelum ini, belum pernah ada sentuhan di antara kami, jadi kami begitu renggang. Aku tak bisa melakukan apapun selain diam membatu, dan menatapnya dengan perasaan iba. Ia yang biasanya semena – mena, sekarang tergolek tak berdaya.

Hatiku masih berdenyut denyut menikmati perasaan aneh saat mas Birru menaruh telapakku di bawah pipinya, lalu aku tersadar, ini tidak mungkin berlanjut karena mas Birru harus lekas di bawa ke dokter.

Gigilnya sudah mereda tapi suhu badannya semakin panas. Aku tak boleh menyiakan waktu. Ku tarik tanganku pelan, lalu kubetulkan selimut sambil berpamit mencari kang Muhlas supir Ummi.

Pondok putra begitu lengang. Lantai satu sampai lantai empat sepi. Kamar mandi tak berpenghuni. Aula senyap. Kantor pengurus kosong. Ku telpon tidak ada yang menjawab. Hape berjejer berkedip kedip di atas meja tamu.

Aku naik ke tangga menuju tempat madin dan koran pagi biasa di pasang, tak ada siapa siapa.

Kemana semua orang?

Aku ke dapur, ke jemuran, ke serambi serambi kamar, tak kutemukan siapapun padahal aku butuh pertolongan untuk membawa mas Birru ke dokter.

Aku berlari kecil ke masjid. Hening. Di Gentong – gentong tempat kang kang mengambil minum juga kosong tak ada satu orang pun. Aku berjalan cepat menuju kantor pondok putri untuk bertanya ke mana perginya kang-kang.

“Ada liga santri, Ning. Sekarang Final. Menawi semuanya ke lapangan. Mirsani bola.”

Aku terhenyak. Sebenarnya waktu kang kang minta doa kemenangan, aku ada di samping abah. Tapi aku benar-benar lupa karena bingung mas Birru sakit dan tidak seorang pun bisa mengantar.

Aku tidak punya nomer taksi apalagi aplikasi lain, akhirnya kuputuskan untuk meminta bantuan Aruna.

“Aku di jalan ini, Lin, mau datang ke Griya Selo, ada pameran tunggal batu dan permata.”

Aku ragu untuk meminta tolong tapi aku tak punya pilihan lain. Aruna berbalik arah dan berjanji menjemput kami.

Mas Birru manut saja saat aku memapahnya dan memasukkannya ke mobil Aruna. Berkali kali ia memegangi perutnya seperti menahan nyeri. Aruna melirikku antara ikut prihatin dan menahan senyum. Ia sempat bergumam,

“Dasar, dewi Rara Ireng.”

Aku pura pura tak mendengar.

Ia pasti ingat ceritaku, bahwa waktu kecil aku begitu jelek, kulitku hitam, rambutku kemerahan dan jarang, Mas mas dan mbakku menjuluki aku Rara Ireng. Aku menangis terus sampai kakek bilang, Rara ireng itu lama kelamaan cantik karena budi pekertinya baik. Saking cantiknya, sampai ada istilah sekethi kurang sawiji. Sepuluh laksa kurang satu. Ini untuk menggambarkan bidadari di kahyangan yang kurang satu. Lalu dilengkapi dengan Rara ireng yang kelak bernama Wara Subadra.

Aruna bilang begitu tentu bukan karena ia sedang menyamakanku dengan Subadra yang merupakan sosok ideal priyayi putri Jawi. Subadra memang lembut anggun dan tenang. Tapi Aruna bilang begitu karena Subadra mampu bersikap tegas di saat saat yang diperlukan. Ia pasti kaget melihatku berinisiatif ini itu untuk kesembuhan mas Birru.

Turun dari mobil, aku menggamit lengan mas Birru. Aruna terkikik di belakangku. Mas Birru diam saja seperti sedang melawan sakitnya.

Dokter bilang, mas Birru sakit tipes. Tipes membuatnya demam, lemas, dan sedikit nyeri perut. Kalau mendadak perutnya terasa sakit, itu karena memang dari kecil ia punya penyakit asam lambung. Aku baru tahu riwayat kesehatan mas Birru.

Di mobil, mas Birru tidak mengatakan apa apa. Ia bersandar di jok sambil memejamkan mata. Aruna membelokkan mobil ke kedai bubur. Ia menyerahkan padaku tiga bungkus bubur yang dibungkus daun pisang. Aruna selalu mengerti tanpa aku minta pengertian.

Sampai rumah, Aruna tidak mampir karena komunitas penghobi batu sudah menantinya di lokasi pameran.

Aku memapah mas Birru sampai kamar dan dia diam saja saat kubilang, selama sakit, ia tidur di ranjang biar tubuhnya bisa leluasa bergerak, dan aku saja yang gantian tidur di sofa.

Aku mengambil piring lalu memintanya makan bubur. Ini adalah bagian tersulit karena harusnya aku menyuapinya tapi dia gengsi dalam lemahnya. Jadinya aku menyangga piringnya sampai dada dan dia makan tanpa kubantu.

Saat bubur tinggal separuh, ummi menelponku. Mas Birru memberi isyarat agar ummi jangan sampai tahu soal kesehatannya.

“Lin, kamu ta bawain Parijoto.”

“Apa itu mi?”

“Buah peninggalan sunan Muria. Apik buat kesuburan katanya. Adanya di Muria tok lho lin.”

Aku tertawa. Padahal dengar soal kesuburan, hatiku berlompatan. Aku ingat buah itu. Ibuku pernah membawanya untuk menantunya, istri masku yang waktu itu hamil. Konon kalau bayi yang dikandung perempuan akan cantik, kalau laki laki akan tampan.

Waktu itu aku sempat mencobanya. Rasanya asam bercampur sepat. Warnanya cantik. Merah muda keunguan. Satu batang terdapat puluhan buah kecil kecil. Menggerombol di setiap tangkainya. Buah ini memang sering jadi oleh oleh orang yang ziarah ke sunan muria untuk wanita hamil, atau meningkatkan kesuburan wanita yang sudah lama mendamba keturunan.

Aku tidak bisa bilang pada Ummi. Aku bukan tidak subur. Putranya saja yang membeku.

“Birru ta belikan Delima hitam. Kata bakule bagus buat pencernaan, Lin. Bojomu itu perutnya sering bermasalah. Mana dia sekarang?”

Aku kaget saat ummi bilang soal perut, apakah itu naluri seorang ibu sampai ummi dari kejauhan seperti merasa kalau putranya sakit?

“Sedang istirahat ummi.”

Kulihat mas Birru tersenyum. Duh gusti, baru kali ini kulihat senyumnya begitu tulus.

“Ummi di mana ini?” Aku mengalihkan pembicaraan agar Ummi tak minta bicara dengan mas Birru.

“Ini keluar dari makam sunan Kudus, Lin. Mau ke makam kiai Telingsing. Ulama yang hebat juga beliau itu.”

Aku mengingat ingat pelajaran sejarah. Seingatku, Kiai Telingsing adalah ulama Tionghoa yang berhasil menyebarkan islam di kawasan Kudus. Ayahnya Arab, Ibunya Tiongkok, ia bernama asli The ling sing lalu lidah Jawa menyebutnya Kiai telingsing. Aku akan minta data lengkapnya pada Abah besok kalau datang. Abah suka mendongengiku tentang sejarah para ulama. Terutama yang hidup di akhir abad 15.

“Kapan kapan kita ke Kudus ya, Lin. Itu rumah belakang itu dindingnya kita ganti Gebyok. Ukiran sini apik, Lin. Katanya di samping dakwah, kiai Telingsing juga mengajarkan seni ukir. Ini makamnya terletak desa Sungging soalnya waktu itu merupakan kawasan ukir. Mau, Lin?”

“Inggih, Mi.”

“Wes, yo. Besok ummi nek punya putu ta ajak ke sini.”

Kalimat terahir ummi bikin hatiku kebat kebit. Aku menatap Mas Birru yang menatapku, bukan tatapan sayang, cuma tatapan penasaran dengan isi pembicaraan Ummi.

Aku mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kesehatan Ummi dan Abah, lalu mewartakan keadaan pondok yang aman sentausa selama ummi tidak di rumah. Ummi menutup telpon bersamaan dengan air mataku yang menggenang karena merasa begitu beruntung.

Mas Birru meminum obat lalu merebahkan diri.

“Lin,” dia memanggilku. Lirih tapi terasa lantang di telingaku. Aku tersentak karena ini untuk pertama kalinya ia menyebut namaku. Biasanya tidak pernah. Kalaupun menyebut namaku, itu karena ada Ummi dan Abah.

Kami hanya berdua di ruangan ini.

“Nggih, Gus?”

“Terima kasih ya, sudah merawatku.”

Aku tertegun. Tidak menyangka dia bisa mengatakan itu. Dia tidak pernah mengajakku bicara lebih dulu, apalagi memujiku. Tapi ucapan terima kasihnya melebihi indahnya syair pujangga mana pun.

Hatiku berdenyar denyar penuh rasa syukur, lalu kubayangkan keindahan akan segera menyergap malam malam kami.

Aku menatapnya dalam kekaguman yang semu. Diam diam aku berdoa semoga semakin hari, kami semakin didekatkan. Aku ingat Parijoto Ummi, aku ingat harapan Ummi yang ingin mengajak putra putri kami ziarah ke makam-makam para wali. Aku sudah rindu menimang putraku.

Saat hendak membantunya berganti baju bersih agar tidurnya nyenyak, telponnya berdering. Di telingaku, nada deringnya terdengar seperti sebuah musik paling pilu. Aku hancur berkeping-keping karena sadar, aku sama sekali tak punya kekuatan untuk membuatnya mencintaiku. Walau aku sudah berusaha keras.

Aku menahan isak. Merasa tak berhak bahagia. Merasa selamanya akan disiakan. Tapi kudengar, suara di seberang, adalah laki laki, barangkali sahabatnya.

Aku kembali tegar. Menyembuhkan lukaku sendiri. Apalagi mas Birru bilang, aku harus menyiapkan hidangan karena nanti sore teman temannya akan datang ke rumah. Mereka mampir dari acara seminar Nasional di Surabaya dan ingin tahu keadaan mas Birru yang tidak bisa datang.

Saat aku sampai pintu, mas Birru memanggilku

“Lin?”

“Nggih ?”

“Tamunya nanti ada perempuane. Satu.”

Waktu seperti berhenti berputar. Ucapannya terdengar seperti sayat sayat sembilu.

Apakah perempuan itu Rengganis?


Oleh: Khilma Anis.

Tinggalkan Balasan