Hati Suhita — Eps 09

Kalau boleh jujur, di rumah hanya berdua begini, aku ingin mengajak mas Birru ke Segaran, Telaga buatan peninggalan jaman Majapahit di Trowulan yang masih ada sampai sekarang.

Aku ingin mencelupkan kedua kakiku di airnya yang luas dan tenang. Aku mendamba bersandar di bahunya lalu tangannya yang kekar melingkari pundakku. Sambil mengamati situs kolam terluas yang pernah ditemukan di Indonesia.

Aku ingin dia menaruh kepalanya di pangkuanku, lalu kuceritakan tentang Segaran yang luasnya enam hektar lebih itu, yang dulu sering dipakai Hayam Wuruk bercengkrama dengan permaisuri dan putra putrinya.

Aku ingin membelai rambutnya yang ikal, sambil menikmati desir damai angin telaga, lalu mengisahkan padanya tentang kebesaran Majapahit yang pada masa itu sudah mengenal teknologi bangunan basah. Sampai punya telaga yang begitu megah.

Dia pasti tidak tahu, konon, di tepian telaga itulah sang Raja menjamu tamu tamu dari Mancanegara, lalu memberi mereka hidangan dengan wadah dan peralatan yang seluruhnya terbuat dari emas. Setelah jamuan makan selesai, wadah-wadah dari emas itu dibuang begitu saja ke Segaran untuk menunjukkan betapa Majapahit adalah negeri yang kaya raya dan membuang emas emasnya.

Aku ingin menjadikannya pendengar setia, lalu kujelaskan versi lain tentang emas dan Segaran lalu kami berduaan, bergandengan tangan, menyusuri candi candi yang lembab dan dingin. Aku ingin dia merengkuhku sambil mencari prasasti peninggalan Dewi Suhita, seorang ratu yang namanya tersemat dalam namaku.

Tapi itu tidak mungkin. Mas Birru tidak tahu inginku dan kegemaranku. Ia hanya mencintai dirinya sendiri.

Pagi ini, Ia tidak beranjak dari sofa, memangku laptop seperti mengerjakan sesuatu yang penting. Kopi yang ku sajikan dibiarkan dingin.

Aku membersihkan kamar. Mengambil baju bajunya yang berserakan, lalu menghirup bau keringatnya diam diam di balik pintu.

Sudah hampir delapan bulan kami tinggal satu kamar. Meski dia belum pernah menyentuhku, tentu saja aku hafal setiap inci tubuhnya dan seperti apa aroma tubuhnya.

Dia terbiasa berganti baju di depanku, seolah aku ini patung yang tak punya perasaan ingin. Tapi aku yang rikuh selalu berganti baju dan jilbab di kamar mandi, seolah aku takut dia ingin. Padahal dia tak pernah perduli itu. Aku tidak tahu, kapan kami bisa dekat tak berjarak seperti lumrahnya suami istri.

“Ada minyak kayu putih?” Ia menaruh kepala di sandaran sofa. Matanya nanar menatap langit langit kamar.

Aku menyerahkan minyak kayu putih sambil bertanya tanya dalam hati, sakitkah ia? Kenapa memegangi perutnya?

Ia membalurkan minyak ke perut. Aroma khasnya menghambur di seluruh penjuru kamar. Aku ingat kalimat ummi, mas Birru selalu bilang pada temen temannya di pondok bahwa tiap ia sakit, tangan Ummilah satu satunya obat. Itu sebabnya ia selalu menolak dibawa ke dokter, tapi ia selalu minta ummi datang ke pondok lalu mengelus perutnya dan langsung reda dari sakit.

Sekarang, ummi sedang ziarah. Dia nampak kesakitan. Aku ingin membalurkan minyak ke perutnya tapi aku takut dia tidak berkenan. Aku ingat malam penolakan itu jadi aku sekarang lebih waspada. Aku cuma bisa diam mematung melihat dahinya mengernyit dan bibirnya mengaduh pelan.

Aku beringsut ke dapur hendak membuatkannya jahe hangat. Ternyata di dapur, tetangga kami sedang ngobrol dengan mbak ndalem sambil menyerahkan terong berkarung karung. Ummi memang bunyai yang sangat dicintai tetangga sekitar. Aku ikut nimbrung sampai lupa kalau tujuanku adalah membuat jahe untuk mas Birru.

Saat aku kembali ke kamar, mas Birru sudah berpakaian lengkap dan memakai ranselnya. Ia mengambil kunci mobil tapi masih sempat meminum jahe buatanku. Dia menolak saat kutawari sarapan dan bilang tidak pengen makan. Aku semakin yakin, ada yang tidak beres dalam tubuhnya.

Sayangnya, aku tidak bisa menahannya untuk jangan pergi.

Bagaimana kalau dia sakit sedang ummi tak di samping kami? Aku belum punya pengalaman soal ini. Ummi juga belum pernah memberi tahu riwayat penyakit mas Birru.

Aku memutuskan ke pasar untuk memasak kesukaan mas Birru, agar selera makannya kembali pulih. Agar dia tidak semakin sakit.

Sejak awal aku tinggal disini, Ibuku memang memintaku berusaha keras untuk bisa memasak makanan andalan keluarga ini. Pokoknya semua menu Kesukaan Abah, kesukaan Ummi, dan terutama kesukaan mas Birru.

Aku belajar terus pada Ummi sampai tidak ada bedanya rasa masakanku dengan masakan beliau. Bagi ibuku, menantu dambaan mertua bukan yang pintar memasak berbagai resep, tapi yang bisa memasak masakan yang sudah bertahun tahun jadi andalan keluarga suaminya.

Aku memasak sayur asem, cumi hitam, udang asam manis, dan pepes tongkol. Tentu saja sambil berharap mas Birru kerso makan dengan lahap.

Kupikir, mas Birru mau pulang dulu untuk makan siang, tapi kutunggu sampai surup, tidak ada tanda tanda ia datang.

Pesan wa ku hanya dibacanya tanpa dibalas. Aku jengah dan mulai berpikir yang tidak tidak. Dia memang hanya takut sama Ummi. Jadi saat ummi pergi, ia akan pulang jam berapapun ia ingin. Tidak peduli padaku yang begitu mengkhawatirkannya sejak pagi.

Apakah ia sedang bersama Rengganis sampai membalas selarik kalimatku ia tak sanggup? Aku tahu ia tak pernah bisa jauh dari hape. Tapi ia sering mengabaikan barisan kata yang ku kirim. Kenyataan ini membuat ulu hatiku begitu nyeri.

Aku sangat sentimentil membayangkan apa yang akan terjadi padaku seandainya Ummi tiada kelak. Tentu ia akan semena mena dan tak sedikitpun menjaga perasaanku di rumah ini.

Sampai jam sepuluh malam, ia belum juga datang. Sia sia aku memasaknya. Sia sia aku menunggunya. Tidak ada gunanya aku mengkhawatirkan kesehatannya. Aku memberikan semua yang ku masak kepada mbak mbak ndalem sambil putus asa.

Jam sebelas malam, Mas Birru masuk kamar. Aku pura pura terpejam. Lampu tidur di sisiku kumatikan, jadi dia tidak tahu walau mataku setengah mengintip. Aku tidur miring memeluk guling. Meringkuk dalam selimut tebal sampai daguku. Aku ingin lihat apa yang akan dia lakukan.

Ia menuju ranjangku lalu menyentuh selimutku dan menyibaknya sedikit.

Aku berdebar debar.

Ia berjalan sambil membuka kancing kancing bajunya. Ia membolak balik bantal di sampingku. Kupikir ia akan telentang di sisiku.

Ternyata, ia mencari baju ganti yang lupa kusiapkan. Biasanya memang ku geletakkan begitu saja di ranjang. Saking jengkelnya karena masakanku tak tersentuh, aku lupa menyiapkan keperluannya.

Ia mencari sendiri di lemari. Berdiri, membungkuk, lalu jongkok. Tidak berhasil. Dia tidak mungkin tahu, wong selama ini akulah yang menyimpan semuanya.

Ia bergeser ke pintu lemari satunya lagi, dengan gerakan yang sama, tidak ketemu juga. Sampai pintu ke tiga, kaos itu ketemu, tapi entah bagaimana ia mengambilnya, setumpuk kaos langsung berantakan dan berjatuhan ke karpet. Ia membereskan dengan kesal. Aku menahan senyum.

Ia meminum air. Duduk sebentar di sofa. Lalu kembali lagi ke lemari. Membuka laci laci.

Aku bertanya tanya sendiri, apa yang dia cari? Melihatnya gelisah, aku ingin bangun lalu beranjak membantunya. Tapi aku sudah kadung jengkel. Aku sangat menghawatirkannya sejak pagi tapi dia sama sekali tak peduli.

Laci laci satu persatu diperiksa. Tidak ketemu juga. Ia berjongkok lama sekali sampai aku sadar ia mencari pakaian dalam.

Ia tidak tahu aku menyimpannya di tempat khusus di lemari jati dekat meja riasku. Selama ini, memang akulah yang menyimpannya.

Ia masuk ke kamar mandi. Menyalakan shower. Aku ingin memberi surprize dengan menaruh pakaian dalamnya di sofa. Tapi tidak jadi. Aku tidur lagi. Kalau dia berani membangunkanku, aku akan menyediakan untuknya. Kalau dia diam saja, biar saja dia tidur tanpa pakaian dalam.

Jadi aku menunggunya keluar dari kamar mandi, siapa tahu dia berani membangunkanku dengan sebuah sentuhan, atau minimal panggilan.

Aku menanti suara shower berhenti sambil mengingat ingat perjalanan kami. Aku mencoba menerka, kurang berapa lama lagi dia bisa luluh dan ikhlas menerima perjodohan ini.

Sebenarnya, perjodohan di kalangan keluarga pesantren adalah hal biasa. Tapi perempuan-perempuan lain jelas lebih beruntung dariku. Kadang, sebelum menikah, mereka sempat berkomunikasi dengan calon suaminya walau hanya lewat telpon, sms, atau wa. Tentu saja komunikasi ini bisa membangun kedekatan.

Banyak juga yang sama sekali belum pernah bertemu sepanjang hidupnya dan baru bertemu setelah akad nikah, tapi langsung saling mencintai karena sama sama tak punya masa lalu. Bahkan malamnya langsung mereguk gairah malam pertama.

Kalau kami jelas beda. Mas Birru menunjukkan rasa tidak suka padaku sejak semula. Mas Birru tahu aku sejak aku masih Mts. Abah dan Ummi beberapa kali mengajaknya ke rumahku kalau di rumah sedang acara Haul Masyayih dan lain lain, tapi ia melanggengkan sikap cueknya.

Dari dulu sampai sekarang, dia tidak pernah berubah, selalu tidak perduli, selalu menunjukkan rasa tidak senang. Seolah aku adalah penghambat cita citanya.

Dulunya, kupikir, kisah cinta kami akan seperti Bagus Burham dengan Istrinya, Raden Ajeng Gombak.

Mereka berdua juga di jodohkan sejak kecil. Tapi mereka saling mencintai dan saling menginkan sejak awal. Sangat berbeda denganku dan mas Birru.

Bagus Burham, bertemu Raden Ajeng Gombak, yang kelak dijodohkan dengannya dan jadi istrinya, justru melalui pertemuan tak sengaja di pasar Madiun.

Pada saat itu, Bagus Burham sedang menunggu dagangan kelontong. Ia yang sejatinya putra seorang bangsawan tentu sedih karena harus berjualan di pasar.

Tapi dia tak punya pilihan lain. Ia terus teringat Kiai Hasan Besari yang marah pada Abdinya, ki Tanujaya, yang terlalu memanjakannya sehingga dia jadi santri yang bandel dan tidak Mandiri. Ia juga boros dan semaunya sendiri. Bandelnya ini bahkan menular ke santri santri lain.

Kiai Hasan Besari meminta Ki Tanujaya pulang ke kediaman Raden Temanggung Sastranegara, dengan maksud agar Bagus Burham bisa mandiri di pesantren. Tapi Bagus Burham terlanjur lengket dengan abdinya dan tidak sanggup berpisah. Jadinya mereka berdua mengendap-endap malam malam keluar dari gerbang pesantren untuk pergi ke rumah sepupu Ki Tanujaya di daerah Madiun.

Selama di Madiun, Ki Tanujaya dan Bagus Burham menghabiskan waktu dengan berjualan di pasar. Mau pulang ke Surakarta, mereka takut kakeknya marah. Mereka berdua sudah mengecewakan karena tidak tahan mencari ilmu di pesantren.

Saat itu, tanpa di sangka sangka, rombongan Kangjeng Adipati Cakraningrat dari Kediri datang.

Karena ki Tanujaya memenuhi panggilan Kangjeng pangeran Adipati, Bagus Burhamlah yang menunggu dagangan di pasar.

Tak dinyana, para putra dan keluarga besar Kangjeng Adipati beramai ramai pergi ke pasar untuk membeli kesenangan masing masing.

Di antara mereka ada Putri Kangjeng Adipati bersama embannya dan diikuti juru payung. Putri itu cantik dan anggun. Ia bernama Raden Ajeng Gombak.

Entah kenapa Raden Ajeng Gombak kecil tidak tertarik dengan dagangan Bagus Burham, tapi justru kesengsem dengan selingkar cincin polos yang tersemat di jari Bagus Burham.

Raden Ajeng Gombak menawar cincin itu dan langsung memakainya di jari tengah. Bagus Burham juga sukarela menyerahkan cincinnya padahal itu adalah cincin keramat pemberian neneknya, Nyai Ageng Sastranegara.

Pertemuan tak sengaja itu menimbulkan denyar dan getar. Cincin itu memunculkan perasaan sayang Raden Ajeng Gombak kepada Bagus Burham sepanjang Hidupnya.

Kelak ketika dewasa, Raden Ajeng Gombak dijodohkan dengan Bagus Burham lalu bernama Raden ayu Pujangganom dengan panggilan Pajang Anom.

Berkat karomah ki Ageng Hasan Besari, Bagus Burham juga ahirnya kembali ke pesantren Gebang Tinatar dan jadi santri yang alim dan pintar sampai jadi pujangga bernama Ranggawarsita.

Wahyu kepujanggaan Bagum Burham ia perolah setelah kiai Hasan Besari memintanya berendam di kali watu selama empat puluh malam.

Sejak dulu, aku menyukai kisah ini.
Mereka itu pasangan yang di Jodohkan sejak kecil, tapi sejak awal mereka punya kerinduan, saling mencintai, lalu membina rumah tangga dengan cinta dan gairah yang meletup letup.

Sedangkan aku? Mas Birru tidak pernah memberiku kesempatan untuk dekat. Tapi ia tetap menikahiku karena takdzimnya pada abah Umminya. Ia mengurungku dalam kesunyian yang panjang. Aku sudah pasrah akan takdirku.


Aku tertidur sampai tak sadar, sepertiga malam hampir berahir. Aku sembahyang sambil merasa tidak nyaman karena kulihat mas Birru tidak bangun. Biasanya ia tidak pernah absen qiyamul lail. Aku kaget melihat minyak yang semula penuh kini hanya tinggal separuh.

“Tulung Kang Den suruh imami.” Suaranya parau. Ia berjalan sambil memegangi kepala dan perut menuju kamar mandi.

Bau minyak kayu putih meruap dari tubuhnya. Aku ingin menyentuhnya, memastikan ia demam atau tidak, tapi aku begitu canggung.

” Njenengan sakit ta, gus?”

“Enggak. Wes budalo ke pondok putri.”

Aku menunggunya shalat subuh sampai salam. Memastikan ia bisa rebah kembali di sofa, lalu segera beranjak ke pondok putri untuk menggantikan Ummi ngimami dan menyimak setoran hafalan.

Aku menutup kamar sambil dongkol karena tahu ia langsung fokus ke hapenya. Apakah ia sedang memandang wajah oval berkerudung merah jambu?

Aku tetap di pondok putri sampai wayah julung kembang. Sampai waktunya bunga bunga mekar. Aku menghabiskan waktu untuk berbincang dengan anak yatim yang dikirim kang Dharma. Dari dialah aku tahu, kang Dharma sebentar lagi akan diserahi pesantren baru oleh abah Yai. Kang Dharma layak mendapatkan kesempatan itu karena kemampuan dan pengabdiannya begitu tinggi. Beruntung sekali perempuan yang kelak menjadi istrinya.

Saat aku kembali ke kamar, kulihat mas Birru menggigil. Tubuhnya melengkung menahan dingin. Bibirnya bergetar hebat. Wajahnya pucat tak berdaya.

Hatiku berlompatan karena khawatir dan takut. Serta merta kusentuh dahinya dengan punggung tanganku. Demamnya tinggi sekali sampai ia seperti mengigau. Ia seperti sekuat tenaga berperang melawan dingin. Aku beranjak mengambil selimutku. Memasangkan di atas selimutnya. Lalu berlari mengambil selimut ke kamar ummi sambil bercucuran air mata karena takut hal buruk terjadi pada suamiku.

Aku segera memijati telapak kakinya. Dia makin kedinginan karena selimutnya ku sibak. Aku menutupnya kembali dan membungkus kakinya sampai tak sedikitpun udara bisa masuk menerobos selimut. AC kumatikan sambil gemetaran karena tak tega melihatnya begitu lemah.

Aku berjalan cepat ke kamar mandi mengambil air untuk mengompres. Saat handuk basah kuletakkan di dahinya, ia yang masih terpejam memegang pergelangan tanganku lalu menyentuh telapakku.

Aku berdebar debar tak berani bergerak. Ia meletakkan telapak tanganku di bawah pipinya yang panas. Aku ikut menggigil dalam ketakutan dan rasa haru.

Dia lemah tak berdaya. Sedang tanganku tergolek di bawah pipinya. Menyentuh jambangnya. Ia mencari kenyamanan di sana. Aku diam menikmatinya karena sadar, inilah untuk pertama kalinya kulit kami saling menyentuh.

Aku ingin mengecup keningnya tapi tahu itu tidak mungkin.

Aku tahu segala sesuatu memiliki awal. Apakah sentuhan ini adalah awal cerita indahnya pernikahan kami sebagaima cincin polos Bagus Burham untuk Raden Ajeng Gombak.

Tapi aku tahu, aku tidak boleh terlalu bahagia karena ini hanyalah reaksi dari mas Birru dalam sakitnya. Mungkin ia merindukan Ummi.

Tapi melihatnya begitu lemah, tangisku pecah karena aku sadar, aku sangat mencintainya dan takut kalau sesuatu yang buruk terjadi.

Aku ingin lekas membawanya ke dokter, tapi aku ingat ucapan Aruna bahwa sekali kali aku harus memberi mas Birru pelajaran sampai ia sadar aku ini penting baginya. Sesungguhnya, inilah saat yang paling tepat untuk pergi.

Aku bingung antara merawat mas Birru dengan tabah, atau meninggalkanya ke Segaran, Trowulan, untuk mencari damaiku sendiri.

Sedang ia, dalam demamnya, semakin erat memegang tanganku.


Oleh: Khilma Anis.

Tinggalkan Balasan