Hati Suhita — Eps 08

Aruna melajukan mobilnya pelan sambil melambai di belakang kemudi. Dia pulang setelah kuyakinkan bahwa aku sudah tenang, akan baik baik saja, dan tangisku sudah habis.

Aku berpesan padanya untuk lekas mencari tau siapa itu Rengganis. Tapi dia pura pura tak mendengar, dan justru bilang padaku, aku boleh menelponnya kapan saja. Dia juga menawarkan pintu rumahnya terbuka jam berapapun aku mau datang.

Dia tidak tahu, aku sekarang sudah tidak merdeka. Bahkan untuk menginap ke rumah ibuku pun, aku harus menunggu ummi mengizinkan atau tidak.

Aku juga tidak akan bisa leluasa menelpon Aruna. Bagaimana kalau abah atau ummi dengar? Dukaku kusimpan. Dendamku kupendam. Isakku kutahan. Aku harus tampil bahagia.

Aku cuma mengiyakan dan bilang pada Aruna, kalau ada apa apa aku akan wa tapi tidak dengan kalimat yang panjang, sebab aku tak bisa pegang hape lama lama kalau mas Birru di dekatku.

Aku jengah kalau mas Birru terlalu fokus ke hapenya. Jadi aku tidak melakukan itu biar dia belajar bagaimana memperlakukan orang lain.

Aruna memelukku lama sekali. Memberiku kekuatan. Tadinya dia ngotot aku harus bertahan dengan mas Birru. Lama lama, dia bilang, dia akan mendukung apapun keputusanku yang penting aku tidak tertekan.

Tertekan? Ah kalau cuma soal itu, aku sudah terlatih.

Samar samar, ku ingat wajah kang Dharma. Aku sangat kaget dengan pertemuan kami yang tak sengaja tadi.

Saat aku berdoa semoga hati mas Birru luluh, semoga kelak dia mau ku ajak ke makam itu, dan semoga aku di beri kekuatan dan ketabahan, justru kang Dharma bersila di belakangku.

Aku tak berani menafsiri itu pertanda apa.

Selama mengenalnya, aku tau dia adalah orang yang setenang Yudistira. Apapun yang di dalam hatinya, orang tidak tahu. Ia hanya tampilkan wajah yang damai.

Ia seperti mengamalkan ajaran resi Sukra, bahwa orang yang bisa menahan diri untuk tidak marah, lebih mulia dari orang yang dapat menjalankan ibadah selama seratus tahun.

Tapi tadi sore, kekhawatiran nampak begitu jelas dari matanya. Mungkin saking parahnya tangisku. Meski dia, kepadaku, hanya bicara seperlunya.

Dia selalu bisa menahan diri untuk tidak bertanya apa yang menimpaku. Dan aku selalu menangis karena tahu, dia sangat menghormatiku dalam rindunya. Dalam sedu sedannya.

Dia tidak pernah memaksaku bicara dan menjelaskan apapun. Seolah olah dia tahu, kelak, aku akan menceritakan semuanya.

Ah kang Dharma, kekhawatirannya padaku, yang selalu disembunyikannya, membuat aku sering berpikir, apakah dia muara segalaku? Apakah mas Birru tidak menyentuhku karena aku ditakdirkan tetap utuh untuk orang lain?

Tapi, setiap hal itu melintas dalam pikiranku, aku teringat tradisi kuno dari buku tua . Bahwa putri seorang brahmana, tidak boleh menikah dengan putra seorang ksatria.

Tapi putri seorang ksatria, boleh menikah dengan putra seorang brahmana.

Konon, tradisi ini untuk menjaga supaya kaum perempuan tidak diturunkan ke status kasta yang lebih rendah.

Katanya, anuloma, atau menikahi laki laki dari kasta yang lebih tinggi, itu dapat diterima. Sedang pratiloma, atau menikahi laki laki dari kasta yang lebih rendah, itu tidak dibenarkan oleh tradisi mereka. Tapi itu hanya ajaran kuno yang terjadi di dongeng-dongeng zaman dulu dan legenda legenda.

Tidak ada ajaran itu di keluargaku. Di keluarga mas Birru juga tidak ada. Aku di unduh mantu bukan soal kasta. Ini adalah murni pernikahan dua pasang pesantren.

Ayah dan ibu, mengizinkanku di boyong ke rumah ini, sebab tahu akulah yang akan jadi penerus tahta.

Dinasti keluarga pesantrenku sudah sangat kuat dan segala sesuatunya berjalan dinamis. Sudah banyak yang membantu ayahku. Sementara mertuaku hanya punya seorang putra, yang belum faham kalau ia di gadang gadang untuk mewarisi kerajaannya.

Akulah yang harus memikul semuanya.

Saat aku berusaha keras membangun kerajaannya dan menjalankan peran yang seharusnya jadi tanggung jawabnya, dia justru berusaha keras menciptakan suasana beku yang membuat batinku tak lagi punya daya bertahan.

Aku menggigil dalam kesepian.
Aku tak tahu sampai kapan akan bertahan.

Ku edarkan pandangan ke bangunan pesantren. Kang kang menunduk menyimak guru guru mengajar kitab. Banyak orang tapi senyap sekali.

Empat mobil terparkir, salah satunya punya mas Birru. Tumben dia pulang lebih awal.

Pelan, kumasuki ruang tamu yang terbuka lebar. Aku langsung mencium bau minyak sereh dan minyak kayu putih meruap ruap di seluruh ruangan.

Siapa yang sakit?

Aku berjalan cepat ke kamar. Mas Birru tidak ada. Kamar pengap jendela menutup. Tivi menyala. Baju dan sarungnya berserakan. Selimut di sofanya tidak terlipat. Buku buku berantakan. Bantal dan gulingnya berjatuhan di karpet. Kran di kamar mandi tidak tertutup rapat. Keset basah dan licin. Handuk bekas pakai di kursi rias. Baru kutinggal sehari, kamar ini seperti tidak berpenghuni.

Aku berjalan melewati perpustakaan abah, menuju kamar ummi. Aku kaget melihat beliau tergolek lemah. Seorang mbak mbak yang membawa nampan teh langsung kuminta, dia bilang ummi pusing saat menyimak ngaji sampai harus dituntun menuju kamar.

Aku langsung menangis. Meraih punggung tangannya, kucium lalu aku duduk bersimpuh. Ummi memejamkan mata tapi tidak tertidur.

Di kursi seberang, mas Birru bersedekap, mengamatiku. Aku menunduk antara rasa bersalah dan takut dia tahu wajahku sembab.

“Sampai jam segini baru datang. Kemana saja memangnya?”

Aku berdebar debar.

“Saya pergi sama Aruna, gus. Ngapunten.”

Tidak mungkin kalau Kubilang aku pergi ke makam mbah Hasan Besari. Apalagi kalau Kubilang tadi sempat ketemu kang Dharma. Dia tidak mungkin cemburu. Cemburu hanya milik orang yang merasa memiliki. Dia tidak pernah merasa aku miliknya.

Aku tidak menjelaskan itu sebab aku tidak mau menurunkan marwahku sebagai istri. Lagipula pertemuan kami tak sengaja dan kami tidak saling bicara.

“Ummi drop. Obatnya tidak kau siapkan.”

Kalimatnya datar. Wajahnya dingin. Dia masih bersedekap. Punggungnya lurus. Dia melirikku dengan penuh kekesalan.

Aku ingin bilang kalau semuanya sudah kusiapkan, bahkan obat obat sudah kubuka satu per satu, dan sudah ku taruh di mangkuk kecil tempat obat ummi biasa ku racik, tapi aku tidak berani mengatakan itu.

“Maafkan saya nggih.” Itu kalimat yang kupilih.

“Aku telpon kamu puluhan kali, tidak ada jawaban.” Dia membuang muka.

Hatiku berlompatan. Khawatirkah ia? Kangenkah ia? Merasa kehilangankah ia? Sepanjang pernikahan kami, memang baru kali ini aku lama pergi. Pagi sampai petang.

“Jangan sampai ummi drop lagi. Jangan lupa siapkan obatnya. Pasrahkan sama mbak mbak kalau memang kamu sibuk.”

Nadanya menohok. Aku menunduk. Kaget. Dan cepat menghapus rasa senang yang baru saja terbersit di hatiku. Dia tidak menghawatirkanku. Dia hanya menyalahkanku atas kondisi kesehatan ibunya. Air mataku menggenang di pelupuk mata.

Sudah makankah ia? Kenapa bajunya begitu lusuh? Tidak bisakah dia mencari bajunya sendiri di lemari? Ataukah saking paniknya kepada ummi?

Ummi tak apa apa, sudah kuperiksa. Ini cuma karena ummi telat minum obat. Dia saja yang tidak tahu. Sebab dia jarang di rumah.

“Nggih.”Jawabku lirih.

Dia diam terpaku. Lalu bergegas mengambil teh saat ummi terbatuk.

Aku mendudukkan ummi dan menyangga badannya. Dia meminumkan teh.

“Gak usah marahin Alina, le. Obate ummi sudah disiapkan sama dia kog. Ummi ki gak wani minum obat soalnya ummi belum makan. Ummi gak enak makan soale kepikiran Alina. Lungo kog suwe. Sudah makan kamu lin?”

“Dereng mi.” Air mataku jatuh lalu kuusap sebelum ummi tahu kalau cintanya membuatku terharu.

“Ummi mau saya masakin apa? Monggo kita makan bersama.”

“Ummi mau sambel tempe kemangi. Mbak mbak tadi bikin lin. Tapi gak podo karo buatanmu.”

Aku tersenyum. Memasang sandal ke kedua kaki ummi. Beliau tidak tahan dingin. Aku Melipat mukenanya. Lalu menuntunnya ke meja makan. Aku di sisi kanan. Mas Birru di sisi kiri.

“Mas mau saya buatkan sambel? Atau nasi goreng?”

“Enggak. Gak usah.” Sahutnya.

Ummi menoleh cepat ke arahnya. Saking jengkelnya kepadaku, mas Birru lupa kalau kami harus bersandiwara. Aku memberinya kode dengan mataku. Bahwa ummi bisa lebih drop lagi kalau tau dia ketus begitu.

“Iya wes, sekalian buatkan mas nasi goreng.” Jawabnya tanpa memandangku.

Aku tersenyum. Memasak di dapur sambil bersemangat. Kulihat mas Birru memijat kaki ummi yang selonjor di kursi panjang.

Setiap kulihat bibir dan dagunya, aku bergetar hebat. Tapi aku kembali ingat penolakannya malam itu. Aku jadi teringat ucapan Dewayani kepada resi Sukra saat putri kerajaan Wrihasparwa menghinanya:
“Luka yang disebabkan pedang, dapat sembuh dalam perjalanan waktu. Tapi sakit hati karena kata kata yang menusuk, akan menggoreskan pedih selamanya. ”

Aku sudah bertekad untuk menutup diriku sampai ia sendiri yang memintanya.

Saat nasi gorengku matang, dan sambel ummi kusajikan, ia pergi dari meja makan karena telponnya berdering. Aku sudah bisa menebak kalau itu telpon dari siapa.

Aku memilih diam, menemani ummi makan sambil berbicara yang ringan ringan. Ummi makan lahap sekali seperti seharian tidak bertemu nasi.

Aku tertawa tawa mengaggapi cerita ummi tentang tingkah nyleneh anak anak pondok. Tapi mataku terus mengawasi mas Birru yang tertawa dengan lawan bicara telponnya. Ia di kursi beranda, masih menelepon, ia menengadah menatap langit. Ia terlihat sekuat tenaga menahan rindu. Seperti apakah wujud perempuan itu sebenarnya?

Melihat kotak transparan ummi yang penuh obat, dan melihat putranya yang asik menelpon, aku merasa dia sedang memperlakukanku seperti seorang perawat.

Ada nyeri yang menjalar di ulu hatiku. Dia tidak membutuhkan kehadiranku sebagai istri. Dia hanya menginginkanku untuk menjaga kesehatan ibunya. Dan sejatinya, itu bisa digantikan oleh perempuan manapun.

Aku ingin marah lalu kuingat nasehat begawan Wiyasa, orang orang yang dapat menaklukkan dunia adalah orang yang sabar menghadapi caci maki orang lain.
Orang yang dapat mengendalikan emosi ibarat seorang kusir yang dapat menaklukkan dan mengendalikan kuda liar. Dia dapat mengambil jarak dari amarahnya seperti ular menanggalkan kulitnya. Hanya mereka yang tidak gentar dengan siksaan, yang akan berhasil mencapai apa yang dicitakan.

Aku hafal nasehat itu diluar kepala. Tapi aku tak bisa menerapkannya. Aku tidak bisa menerima kalau mas Birru dingin kepadaku, tapi selalu sumringah kalau menelponnya.

“Lin, ummi pengen punya cucu. Ummi sudah sepuh.” Ummi menyentuh tanganku. Mentap mataku. Menunjukkan keseriusannya.

Aku tersenyum. Mengangguk dalam bimbang.

“Doakan lekas dikasih ya mik.” jawabku sambil memasang senyum termanis.

Ummi mengangguk lalu memberiku amalan amalan dan wirid agar aku lekas mengandung.

Duh Gusti, aku tidak sehebat Dewi kunti yang rajin bertapa, yang diberi mantra Resi Durwasa untuk leluasa memanggil dewa dewa sampai lahirlah Karna dan adik adiknya tanpa persetubuhan.

Aku adalah perempuan biasa yang sudah mati rasa dengan sentuhan, tapi meranggas merana kalau ingat ummi minta keturunan.

Aku ingat mas Birru yang dingin. Aku ingat kang Dharma yang hangat.

“Besok kamu jaga rumah sama Birru ya, lin. Ummi sama abah nganter jamaah ziarah wali. Kemungkinan tiga harian. Jangan pergi-pergi lho.”

Aku mengangguk lalu bertanya apakah ummi sudah sehat. Dia mengangguk lalu pindah ke sofa panjang. Ia mengulurkan tanganya untuk ku pijat, lalu menderas Qur’annya. Aku duduk bersimpuh di atas karpet. Menyimak hafalannya dalam diam.

Ummi adalah kesayanganku, yang kucintai melebihi ibuku sendiri. Tidak ada kedamaian melebihi lantunan suaranya saat mengaji.

Hatiku berdebar debar tak menentu.
Tiga hari ke depan, hanya aku dan mas Birru di rumah sebesar ini.

Aku tidak bisa menerka apa yang akan terjadi.


Oleh : Khilma Anis.

Tinggalkan Balasan